Budidaya

Mengenal Eucalyptus, Tanaman yang Berpotensi Sebagai Antivirus Corona

Pengembangan tanaman Eucalyptus untuk menjadi kandidat tanaman obat penangkal Covid-19.

  1. 0 Komentar
  2. 4 Dibagikan
null

Beberapa waktu yang lalu, media Indonesia menyoroti produk alami dari tanaman Eucalyptus yang diduga berpotensi sebagai antivirus yang saat ini masih menjadi wabah di seluruh dunia, Covid-19. Hal tersebut didasarkan pada hasil riset dari tim inovasi antivirus berbahan dasar dari tanaman Eucalyptus.

Potensi inovasi ini merupakan hasil uji lab para peneliti pertanian yang diduga mampu menangkal penyebaran virus. Terobosan ini didasarkan pada hasil pengujian tanaman Eucalyptus terhadap virus influenza, virus Beta dan gamma corona yang menunjukkan kemampuan membunuh ketiga kelompok virus tersebut, yakni sebesar 80-100 persen.

Sekilas Tentang Tanaman Eucalyptus

Tanaman Eucalyptus termasuk famili Myrtaceae, genus Eucalyptus dengan spesies Eucalyptus spp. Beberapa spesies atau jenis dari tanaman Eucalyptus ini yang sudah dikenal umum antara lain, Eucalyptus alba (ampupu), Eucalyptus deglupta, Eucalyptus  grandis, Eucalyptus plathyphylla, Eucalyptus saligna, Eucalyptus umbellate, Eucalyptus camadulensis, Eucalyptus pellita, Eucalyptus tereticornis, Eucalyptus torreliana.

Tanaman Eukalyptus memiliki beberapa persyaratan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanamannya diantaranya yaitu pada kondisi iklim bermusim  (daerah arid) dan daerah yang beriklim basah dari tipe hujan tropis. Tanaman Eucalyptus dapat tumbuh pada tanah yang dangkal, berbatu-batu, lembab, berawa-rawa, secara periodik digenangi air, dengan variasi kesuburan tanah mulai dari tanah-tanah kering gersang sampai pada tanah yang baik dan subur.

Penyebaran dan Morfologi Eucalyptus

Daerah penyebaran alami tanaman Eucalyptus berada di sebelah Timur garis Wallace, mulai dari 7°’ LU sampai 43°39’ LS meliputi Australia, New Britania, Papua dan Tazmania. Namun, diketahui juga beberapa jenis tanaman Eucalyptus juga ditemukan di Kepulauan Indonesia yaitu Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Leste.

Genus Eucalyptus terdiri atas 500 spesies yang kebanyakan endemik Australia. Hanya ada dua spesies yang tersebar di wilayah Malesia (Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Fillipina) yaitu Eucalyptus urrophylla dan Eucalyptus deglupta. Saat ini beberapa spesies sudah ditanam di luar daerah penyebaran alami, seperti di benua Asia, Afrika bagian Tropika dan Subtropika, Eropa bagian Selatan dan Amerika Tengah.

Secara morfologi, umumnya tanaman Eucalyptus memiliki tajuk sedikit ramping, ringan dan banyak meloloskan sinar matahari. Percabangannya lebih banyak membuat sudut ke atas, jarang-jarang dan daunnya tidak begitu lebat.

Ciri khas lainnya dari tanaman Eucalyptus diantaranya sebagian atau seluruh kulitnya mengelupas dengan bentuk kulit bermacam-macam mulai dari kasar dan berserabut, halus bersisik, tebal bergaris-garis atau berlekuk-lekuk. Warna kulit batang mulai dari putih kelabu, abu-abu muda, hijau kelabu sampai cokelat, merah, sawo matang sampai coklat.

Jenis Eucalyptus tertentu dapat berupa semak atau perdu sampai mencapai ketinggian 100 meter umumnya berbatang bulat, lurus, tidak berbanir dan sedikit bercabang. Sistem perakarannya yang masih muda cepat sekali memanjang menembus ke dalam tanah . 

Tanaman Eucalyptus Untuk Antivirus

Para ilmuwan terus meneliti dan mencari obat untuk menyembuhkan virus corona. Indonesia pun ikut serta mengembangkan produk antivirus berbahan dasar Eucalyptus. Saat ini, penelitian sedang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian. Pengujian menggunakan beberapa konsentrasi dari beberapa jenis virus yakni virus influenza dan beberapa jenis virus corona. Namun, pengujian belum menggunakan virus corona jenis baru, yaitu Covid-19.

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, tanaman Eucalyptus belum diujicoba virus Covid-19 karena belum tersedia virus tersebut untuk kepentingan laboratorium. Setelah uji efektivitas bahan aktif yang terkandung di dalamnya, langkah selanjutnya adalah membawa hasil penelitian ke laboratorium. Baru setelahnya inovasi tersebut bisa dikatakan sebagai produk kekebalan tubuh dan tahan terhadap paparan Covid-19.

Kandungan Senyawa Antivirus

Sebelumnya, pengujian telah dilakukan untuk beberapa tanaman herbal termasuk Eucalyptus terhadap virus Gammacorona dan Beta coronavirus Clade 2a sebagai model dari virus corona. Hasilnya, tanaman Eucalyptus menunjukkan antivirus 80-100 persen tergantung jenis virus, termasuk virus corona yang digunakan dalam pengujian, serta virus influenza H5N1.

Bahan aktif utama yang terdapat pada tanaman ini yang berperan penting yaitu senyawa cineol-1,8 yang berfungsi sebagai antimikroba dan antivirus, terutama virus corona jenis apa pun. Seperti diketahui, tanaman Eucalyptus memiliki banyak manfaat, seperti melegakan pernapasan, menghilangkan lendir, mencegah penyakit mulut, pengusir serangga, desinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual.

  1. 0 Komentar
  2. 4 Dibagikan
Referensi

Rainita T. 11 Mei 2020. Eucalyptus Diklaim Berpotensi Menangkal Virus Corona! Benar Enggak Sih?. Link: https://herstory.co.id/read2733/eucalyptus-diklaim-berpotensi-menangkal-virus-corona-benar-enggak-sih

 

Nasution M. 10 Mei 2020. Diklaim Sebagai Antivirus Corona, Inilah Penjelasan Kementan Mengenai Produk Eucalyptus, Benarkah Klaim Tersebut?. Link: https://intisari.grid.id/read/032144349/diklaim-sebagai-antivirus-corona-inilah-penjelasan-kementan-mengenai-produk-eucalyptus-benarkah-klaim-tersebut?page=all

 

CNN Indonesia. 11 mei 2020. Pemerintah Kembangkan Eucalyptus untuk Obat Antivirus Corona. Link: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200511080522-255-501912/pemerintah-kembangkan-eucalyptus-untuk-obat-antivirus-corona

0 Komentar