Agro Ekonomi

Mengenal Asuransi Pertanian dan Manfaatnya Bagi Petani

Ditengah perubauahn iklim dan integrasi sistem keuangan asuransi pertanian menjagi penting bagi petani.

  1. 0 Komentar
  2. 4 Dibagikan
Ilustrasi

Tahun 2020 menjadi masa pencapaian pertanian terbanyak terutama sejak diberlakukannua asuransi pertanian. Efek dari hal itu berupa terciptanya rasa aman bagi petani untuk berproduksi. Terbukti, hingga bulan Mei 2020 realisasi asuransi pertanian berupa Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) mencapai 333.505 hektar atau 41,69 persen dari target 1 juta ha tahun 2020.

Tentang Asuransi Pertanian

Asuransi yang berjalan baik akan memberi perlindungan kepada petani dan peternak. UU No. 19 Tahun 2013 yang mengamanatkan perlindungan kepada petani pada hakikatnya adalah tugas semua komponen bangsa. Pada sektor tanaman pangan, asuransi pertanian berperan vital, yaitu sebagai jaminan ketersediaan pangan seiring dengan peningkatan populasi yang menyebabkan peningkatan pemenuhan kebutuhan pangan.

Apa itu asuransi pertanian? Asuransi pertanian adalah perjanjian antara petani dan pihak perusahaan asuransi untuk mengikatkan diri dalam pertanggungan risiko usaha tani (khususnya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan/atau peternakan).

Dengan kata lain, asuransi pertanian menjadi salah satu usaha untuk melindungi petani dan meningkatkan produktivitas pertanian dari suatu kondisi yang menyebabkan kerugian. Asuransi pertanian merupakan salah satu strategi pemenuhan kebutuhan pangan dengan memberikan perlindungan kepada pelakunya yaitu petani, serta memacunya untuk terus meningkatkan produktivitas.

Perlindungan diberikan kepada petani penggarap tanaman pangan yang tidak memiliki lahan usaha tani dan menggarap paling luas dua hektar, petani yang memiliki lahan dan melakukan usaha budi daya tanaman pangan pada lahan paling luas dua hektar, serta petani hortikultura, pekebun atau peternak skala usaha kecil.

Jenis Produk Asuransi Pertanian

Menurut FAO (2011), jenis produk asuransi pertanian meliputi:

  • Asuransi tanaman (crop insurance).

Kelompok tanaman yang dapat masuk ke dalam asuransi tanaman yaitu tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan.

  • Asuransi ternak (livestock insurance).

Jenis usaha ternak yang bisa masuk ke dalam asuransi ternak yaitu ternak non-ruminansia dan monogastrik atau pseudoruminant.

  • Asuransi kehutanan/perkebunan (forestry/plantation).
  • Asuransi rumah kaca (greenhouse insurance).
  • Asuransi daging unggas (poultry insurance).
  • Asuransi budi daya perikanan (aquaculture insurance).

Selain sebagai pelindung petani, asuransi pertanian juga berhubungan erat dengan akses permodalan petani. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam lingkup yang sama yaitu keuangan petani.

Perkembangan Asuransi Pertanian Di Berbagai Negara

Asuransi pertanian harus mudah diakses oleh semua kalangan petani. Dan, yang lebih penting lagi skema asuranti pertanian berlandaskan pada mekanisme bisnis yang bermanfaat bagi stakeholder yang terlibat, sehingga penumbuhkembangannya akan lebih mudah.

Usaha pertanian yang berkelanjutan akan membutuhkan sistem pertanian secara keseluruhan untuk dikelola secara efektif. Di negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Eropa, asuransi pertanian berkembang pesat dan efektif untuk melindungi petani. Asuransi pertanian menjadi salah satu strategi dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Perkembangan asuransi pertanian di berbagai negara beragam. Di Taiwan, asuransi pertanian berkembang dengan baik; di India, Bangladesh, dan Filipina perkembangannya lambat, sedangkan di Thailand kurang berkembang.

Tantangan Asuransi Pertanian Di Indonesia

Merujuk penerapan di banyak negara di kawasan Asia Pasifik dan Amerika Latin dan merujuk pada kondisi obyektif, tantangan asuransi pertanian di Inonesia sangat kompleks, meliputi tantangan institusional, finansial, teknis, sosial-budaya, dan operasional.

  • Tantagan institusional: Sinergi antar lembaga, pemangku kebijakan, pelaksana, institusi petani dan yang terkait.
  • Tantangan finansial: Sumber dana dan tata kelola keuangan ditingkat petani itu sendiri.
  • Tantangan teknsi: Efektivitas pada mekansime klaim, premi, dan aproval terutama terkait pengukuran kerugian serta pembayaran.
  • Tantangan sosial-budaya: Barrier, pemahaman tentang produk keuangan, terutama asuransi yang membutuhkan tidak hanya edukasi tapi juga pendampingan.
  • Tantangan operasional: Efisiensi sistem kerja yang dapat menjagkau keberadaan petani yang ada di desa. 

Di Indonesia sendiri, peningkatan jumlah peserta asuransi pertanian menunjukan harapan petani pada asuransi pertanian sebagai jaminan semakin meningkat. Pengembangan skema yang inovatif, termasuk juga sumber pendanaan, serta pengembangan mekanisme yang efektif dan efisien harus terus diupayakan untuk menjaga kesinambungan, serta menjangkau masyarakat petani yang lebih luas.

  1. 0 Komentar
  2. 4 Dibagikan
Referensi

Praptono Djuneddi. Analisis Asuransi Pertanian di Indonesia: Konsep, Tantangan, dan Prospek. Jurnal Borneo Administrator, Tahun 2016.

0 Komentar