Liputan

Mendalami Social Entrepreneurship Bersama Romy Cahyadi, CEO Instellar

Social entrepreneurship bisa berangkat dari CRS dan inisiatif individu, atau lembaga nirlaba. Yang membedakan dari social entrepreneurship adalah tujuannya.”

  1. 0 Komentar
null

Berangkat dari pertanyaan mengapa social entrepreneurship tidak kewirausahaan saja? Diskusi dengan tema social entrepreneurship sampai pada pertanyaan, “apakah social enterprise bisa go public atau tidak?”.

Bersama Romy Cahyadi CEO Instellar

Seklias itulah nuansa awal diskusi dengan Romy Cahyadi, disela saat mengisi acara pelatihan Duta Petani Muda 2018, di BBLM (Balai Besar Latihan Masyarakat), Kemendes di Ciracas Jakarta Timur, (27/11).

Pada kesempatan itu, GenAgraris.ID berdiskusi dan mengkonfirmasi tentang social entrepreneurship kepada Romy Cahyadi selaku CEO Instellar. Instellar sendiri merupakan enterprise yang menyelenggarakan inkubasi dan pelatihan, mengadakan program rutin dan acara seminar, pengembangan, dan pendanaan bagi pelaku social entrepreneurship.

Pemahaman dan Perkembangan Social Entrepreneurship

Berikut adalah, pertanyaaan, penjelasan dan kutipan singkat yang terlontar pada diskusi dan konfirmasi dalam sesi wawancara singkat dengan Romy Cahyadi mengenai, pengertian, pemahaman, dan perkembangan social entrepreneurship.

1. Ada perdebatan mengenai social entrepreneurship yang berangkat dari CRS perusahaan, dan yang berangkat dari individu, komunitas, atau lembaga nirlaba. Menurut bapak sendiri, social entrepreneurship itu sebenarnya apa dan bagaimana?

Social entrepreneurship bisa berangkat dari CRS dan inisiatif individu, atau lembaga nirlaba. Saya sendiri tidak mempermasalahan itu. Tetapi perusahaan yang melakukan CSR belum tentu perusahaan sosial atau social enterprise. Yang membedakan dari social entrepreneurship adalah tujuannya.”

Lebih lanjut ia mengambil contoh perusahaan, yang melakukan CSR, pemberdayaan masyarakat dengan misalnya, membuat sekolah, dan fasilitas lainnya, di kawasan ring satu areal usahanya. Itu baik, tetapi bukan perusahaan tersebut bukan social enterprise

Untuk memperjelas antara entrepreneurship, dan social entrepreneurship ia menjabarkan antara dampak sosial dan tujuan sosial. Setiap kegiatan kewirausahaan pasti mempunyai dampak sosial. Tetapi setiap kegiatan kewirausahaan belum tentu mempunyai tujuan yang murni dan jelas didedikasikan untuk kepentingan sosial.

Sepengetahuannya, di Indonesia sendiri perusahaan sosial atau social enterprise yang besar belum banyak, atau menonjol. Ia lalu mencontohkan salah satu perusahaan sosial atau social entreprise di Eropa, Divine Chocolate. Sebuah social enterprise dari UK, yang melakukan pemberdayaan masyarakat di Afrika, yang diambil atau dianggarkan dari sebagian labanya.

2. Apa karakteristik social entrepreneurship? Bagaimana mengetahui atau membedakan sebuah usaha atau perusahaan sebagai social entreprise atau bukan?

“Sebuah kegiatan dapat dikatakan sebagai usaha social entrepreneurship atau social enterprise jika usaha itu sudah merupakan bisnis, artinya ada produknya dan melakukan transaksi ekonomi. Selanjutnya, bisnis itu terlibat atau berpengaruh langsung terhadap lingkungan sosial, dalam lingkup tertentu, untuk suatu daerah atau bidang tertentu.”

Untuk pertanyaan lanjutan pada pertanyaan ke-2 diatas Romy Cahyadi menanggapi dengan jawaban, “memang sulit untuk membedakan atau mengetahui sebuah perusahaan atau usaha dikatakan social enterprise”. Ia menambahkan ada ukuran atau parameter untuk memasukan sebuah usaha atau perusahaan dapat dikategorikan sebagai social enterprise, dan harus diteliti secara mendalam.

Selanjutnya Romy Cahyadi mencontohkan salah satu social enterprise di Indonesia, Javara. Sebuah usaha yang menyasar nice market, untuk konsumen premium, Javara memenuhi kebutuhan pasarnya untuk produk sehat, seperti beras dan gula merah organik melalui skema kerjasama langsung dengan petani. Misinya, menjaga biodiversity yang dituangkan kerjasama menanam bahan pangan yang jarang ditanam, dan membeli dengan harga mahal dari petani.

romy cahyadi kewirausahaan sosia
Romy Cahyadi, CEO Instellar, saat mengisi pelatihan Duta Petani Muda 2018. by Sistha

3. Jika salah satu tolak ukur social entrepreneurship adalah tujuan atau misinya, yang diwujudkan dalam kegiatan nyata, berarti social enterprise atau perusahaan sosial tidak bisa go public?

“Bisa iya, bisa tidak. Ada kemungkinan atau risiko ketika sebuah perusahaan sosial go public visi, orientasi dan kegiatannya berubah. Tetapi, kemugkinannya berbeda jika kasusnya manajemen atau perusahaan itu tetap menjadi pemegang saham mayoritas, atau investornya merupakan pihak yang diuntungkan atas kegiatan sosialnya”.

Disela itu, Romy Cahyadi menjawab pertanyaan mengenai posisi atau keberadaan social enterprise atau perusahaan sosial di peta ekonomi Indonesia. Ia, mengungkapkan keberadaan social enterprise di peta ekonomi Indonesia, jika korporasi sebesar 10% dari keseluruhan peta ekonomi dan 90%-nya SME (Small Medium Enterprise), social enterprise berada di antara yang 90% itu.

Lalu ia mengungkapkan, tidak semua usaha harus menjadi social enterprise. Ada perusahaan yang berasal dari bisnis murni, lalu ia menjalankan tanggung jawab sosialnya. Ia memberikan poin khusus bahwa prinsip dasar social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial adalah circular economy, untuk mewujudkan sustainable development. (admin)

  1. 0 Komentar
Referensi

0 Komentar