Kewirausahaan

Logistik dan Pengiriman Komoditas Pertanian Dari Desa Ke Kota

Adaptasi Pelaku Usaha Tani Desa Menangani Kendala Ketersediaan Transportasi Pengiriman Komoditas Pertania.

  1. 1 Komentar
  2. 1 Dibagikan
null

Dari pemberitaan berbagai media pekan ini, dikabarkan 25 kontainer komoditas kelapa dari Indonesia ditolak oleh Tahiland. Komoditas kelapa yang dikirim oleh entitas bisnis di Indonesia itu ditolak karena setelah sampai Tahiland sudah tumbuh tunas.

Sekilas Kendala Pengiriman Komoditas Pertanian

Kejadian itu menunjukan logistik komoditas pertanian masih merupakan kendala besar yang menghambat usaha pertanian. Pengiriman komoditas pertanian memang bukan hal yang sederhana. Karakteristik komoditas pertanian, seperti mudah rusak, dan bulky tidak hanya membutuhkan perangkat atau tempat khusus pada saat pengiriman. 

Perkiraan waktu pengiriman, pengepakan, sampai penanganan sebelum pengiriman dan setelah barang sampai, untuk komoditas pertanian sangat rigid. Belum lagi karakteristik dan bentuk setiap komoditas pertanian berbeda-beda. Dapat dipastikan, untuk satu pengiriman komoditas pertanian dalam jumlah besar atau beragam dibutuhkan penanganan khusus, baik dari SDM, infrastruktur logistic, dan sarananya, dimana itu memakan porsi biaya besar dari total HPP (harga pokok penjualan).

Pengiriman Komoditas Pertanian Dari Desa Ke Kota

Kendala logistik komoditas pertanian tidak hanya terjadi pada pengiriman antar negara, tapi juga antar wilayah, dari desa ke kota. Desa sebagai sentra komoditas pertanian merupakan daerah pemasok bahan pangan dan komoditas lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat urban atau kota. Pelaku usaha tani di desa sebagian besar menjual komoditas hasil panen atau komoditas olahan ke pasar di kota, selain juga untuk suplai industri dan pasar lokal.

Pelaku usaha tani di desa sangat beragam, baik yang kecil sampai yang besar, pengepul atau petani penanam, penyedia sarana pertanian maupun pengolah komoditas pertanian, semuanya adalah pelaku usaha mandiri dan independent, tidak terpengaruh pasar global, dan tidak terikat pada sistem prosedur atau standar yang baku.

Walau disatu sisi dengan tidak adanya standar, SOP atau manajemen baku menjadi kelemahan, tapi dengan itu, pelaku usaha tani desa mempunyai daya survival dan kreatif yang tinggi, salah satunya dalam hal memecahkan masalah distribusi, atau pengiriman barang dari desa ke kota.

Khususnya bahan pangan, daerah urban atau kota merupakan pasar yang paling besar yang menyerap hasil panen untuk kemudian dikirim oleh pelaku usaha tani. Tidak semua pelaku usaha tani di desa mempunyai mobil transportasi, truck, atau lainnya. Tapi, tidak sedikit juga dengan kuota dan kualitas tertentu pelaku usaha tani tetap memenuhi permintaan dari pedagang besar hilir di kota, grosir besar, restoran, dan usaha ketering.

Berbagai Cara Pengiriman Komoditas Pertanian Dari Desa Ke Kota

Kendala utama pengiriman komoditas pertanian dari desa ke kota adalah ketersediaan transportasi yang layak, dan terjangkau, serta economic of scale, minimal jumlah pengiriman. Untuk menanggulangi kendala itu, adaptasinya adalah dengan memanfaatkan transportasi yang tersedia, diantaranya:

1. Pengiriman dengan bus

Untuk pengiriman komoditas yang tidak membutuhkan ruang luas, tidak mudah rusak, dan harganya tinggi seperti kacang-kacangan, rempah yang sudah dikeringkan, kopi dan lainnya di beberapa daerah pelaku usaha tani desa memanfaatkan bus sebagai transportasinya.

Jumlah pengiriman dengan menggunakan bus biasanya tidak lebih dari 100kg, dengan barang ditempatkan di bagasi. Untuk pengiriman rutin, pengiriman ini efisien asal barang dikemas dengan baik.

2. Pengiriman dengan angkutan barang oprengan

Dibeberapa daerah sentra komoditas pertanian, seperti di Pangalengan dan Ciwidei, Jawa Barat ada yang menyediakan jasa angkutan komoditas pertanian dari desa ke kota. Pelaku usaha tani yang memiliki langganan di kota, biasanya secara rutin menggunakan angkutan ini. 

Angkutan ini mengirim berbagai komoditas pertanian hasil panen dari petani yang biasanya spot distribusinya di pasar-pasar besar di kota, seperti pasar Senen untuk sayuran, pasar induk Kramat Jati, pasar Tanggerang dan lainnya.

3. Pengiriman dengan kereta

Untuk jarak yang lumayan jauh, tapi permintaannya belum memenuhi minimal pengiriman dengan menggunakan truk, dan angkutan barang besar lainnya, pelaku usaha tani di desa biasanya menggunakan kereta sebagai trasportasinya. Komoditas pertanian yang dikirim dengan kereta biasanya buah-buahan, seperti salak, melon, mangga, jeruk, dan lainnya. 

4. Pengiriman dengan model nitip

Pengiriman dengan model nitip ini merupakan kerja sama antar pelaku usaha tani desa. Pelaku usaha tani yang belum mempunyai mobil angkutan sendiri, biasanya dapat menitipkan pengiriman komoditas pada pelaku usaha di desa yang mempunyai angkutan, selama tujuannya searah. Untuk biayanya, tergantung kesepakatan dari keduannya.

Pengiriman Komoditas Pertanian Sebagai Rangkain Dari Segmen Ekonomi Padat Karya

Tentunya, adaptasi berbagai model pengiriman komoditas pertanian dari desa ke kota diatas itu bukan solusi sempurna, karena bukan angkutan khusus, tidak ada jaminan untuk keutuhan barang. Tapi, itu solusi yang efisien dan sudah terbukti dapat dijalankan.

Hubungan antara pelaku sauah tani di desa dengan pedagang di kota, utamanya di pasar merupakan rangkaian sistem logistic dari satu segmen ekonomi tersendiri. Walau kecil, sirkulasi usaha komoditas pertanian sangat cepat dan mempunyai akar yang kuat, baik dari konsumennya maupun produsennya. Tidak hanya itu, sirkulasi itu membentuk sistem ekonomi padat karya, sehingga dapat dikatakan sebagai fondasi dari perekonomian yang berjalan.

Img: Ilustrasi
  1. 1 Komentar
  2. 1 Dibagikan
Referensi

1 Komentar

  • Miftahuddin

    2 bulan lalu

    adakah rekomendasi dari gen agraris untuk jasa pengiriman komoditas pertanian yang baik dan amanah?