Agro Ekonomi

Ini Karakteristik Usaha Dengan Peluang Besar Bertahan Ditengah Krisis Covid-19

Usaha dengan fundamental kuat, model bisnis fleksibel, trusted dan lainnya berpeluang besar mampu menghadapi krisis Covid-19.

  1. 0 Komentar
  2. 5 Dibagikan
Ilustrasi

Belajar dari 1998, krisis ekonomi yang berujung ke krisis multi dimensi pada waktu itu tidak hanya membuat banyak pelaku usaha gulung tikar, tapi juga memunculkan the rising star. Bak mutiara terpendam, pengusaha-pengusaha baru muncul bersama dengan peningkatan usahannya yang terdongkrak oleh krisis.

Krisis Covid-19

Pemberlakuan darurat kesehatan, yang diakibatkan oleh penyebaran wabah Covid-19 satu minggu yang lalu perlahan berdampak ke perekonomian. Terlebih lagi penerapan status PSBB (Pembatasan Sosial bersekala Besar) yang sudah berlaku di beberapa Jakarta, dan menyusul Jabodetabek, membuat ekonomi Jakarta seolah mati suri.

Gelombang PHK yang mulai menjadi headline di berbagai media harian pada minggu-minggu ini (15 April 2020) menandakan krisis kesehatan Covid-19 ini sudah berdampak ke berbagai sektor ekonomi. Pariwisata, transportasi, hotel, kafe, dan restoran menjadi sektor pertama yang terpukul oleh wabah Covid-19. Berbeda dengan krisis ekonomi 2008 dan 1998, krisis kesehatan Covid-19 langsung memukul sektor riil, terutama sektor UKM yang selama ini menjadi fondasi perekonomian nasional.

Melihat situasi yang terjadi, dan warning pengusaha bahwa tahanan cashflow perusahaan hanya mampu sampai Juni, krisis kesehatan Covid-19 yang sekarang melumpuhkan industri pariwisata, dan transportasi tidak menutup kemungkinan akan merambat ke sektor lainnya seperti manufaktur, bahkan properti sampai moneter. Bahkan, sekarang masyarakat pun sekarang sudah mengetatkan belanja hariannya. 

Berbeda dengan 2008 dan 1998, sekarang pasar tradisional sepi pengunjung. Bukan hanya disebabkan adanya pemberlakuan social distancing, tapi juga permintaan berkurang akibat warung makan, dan restoran banyak yang tutup. Itu memukul rantai nilai dibawahnya sampai ke petani, dan sebagai simtom nantinya daya beli masyarakat akan mengalami penurunan.

Sektor keuangan sendiri dikabarkan sudah mengalami gejala penurunan kinerja. NPL perbankan Februari 2020 sudah naik tipis sebesar 2,79 persen, dibanding bulan Januari yang berada di posisi 2,77 persen. Lebih jauh, sudah banyak debitur yang mengajukan fasilitas restrukturisasi. Dilangsir dari Tempo, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, sejak 16 Maret hingga 31 Maret telah melakukan restrukturisasi kredit sebesar Rp 14,9 triliun yang diberikan untuk 134 ribu debitur. Bank lainnya, BTN mencatat permohonan restrukturisasi dengan nilai baki debet sekitar Rp 2,7 triliun.  

Disisi lain, sudah satu setengah bulan dari sejak publikasi kasus pertama pada awal Maret, penyebaran wabah Covid-19 belum menunjukan penurunan, malah sebaliknya. Banyak pakar pandemi memprediksi titik puncak krisis kesehatan Covid-19 terjadi pada pertengahan Mei. Belum lagi, adanya kemungkinan gelombang kedua wabah Covid-19 setelah ditemukannya kasus baru di beberapa negara, karena adanya kemungkinan mutasi virus.

Kini, Covid-19 bukan hanya sebagai darurat kesehatan, tapi sudah ditetapkan sebagai bencana nasional. Itu artinya dampak ekonomi yang disebabkan oleh wabah Covid-19 juga semakin luas. Diluar itu, IMF meramalkan pada tahun 2020 ini ekonomi dunia akan mengalami resesi terburuk sejak great depression tahun 1930-an. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai -3 persen. 

Dengan berbagai upaya penyelamatan ekonomi, tentunya masih terbuka optimisme mempertahankan keadaan ekonomi, seperti dengan stimulus untuk UMKM, dan sektor riil terdampak, kesigapan penanganan dan penanggulangan Covid-19, dan keadaan alam yang diluar dugaan.

Dunia Usaha Ditengah Krisis Covid-19

Keadaan ekonomi yang semakin tidak kondusif sudah disikapi cepat oleh dunia usaha. Usaha-usaha yang produksinya in line dengan produk kesehatan langsung beralih memproduksi produk atau perlengkapan kesehatan. Seperti, usaha konveksi yang tadinya memproduksi kaos atau baju untuk lebaran, kini banyak yang beralih memproduksi masker dan alat perlengkapan kesehatan. Demikian halnya usaha dibidang farmasi, obat-obatan, obat tradisional, bahkan pangan.

Itulah salah satu yang menentukan sebuah usaha berhasil bertahan ditengah krisis. Keadaan saat ini penuh dengan ketidakpastian, belum diketahui kapan wabah Covid-19 akan reda, dan belum dapat dipastikan sejauh mana dampaknya terhadap keadaan ekonomi. Jika sebuah usaha tidak gesit, risiko terdampak Covid-19 semakin tinggi.

Secara nasional keadaan saat ini belum dapat dikatakan sebagai krisis ekonomi, tapi dengan adanya PHK masal, secara sektoral, bidang-bidang usaha tertentu sudah mengalami krisis. Diluar industri kesehatan, terutama yang tidak terkait dengan Covid-19, setiap usaha mengalami tantangan berat. 

Karakteristik Usaha Dengan Peluang Besar Mampu Menghadapi Krisis Covid-19

Social distancing dan himbauan dirumah aja, mengakibatkan aktivitas ekonomi masyarakat tersendat. Perputaran roda ekonomi berjalan labat, dan membutuhkan cara-cara berbeda untuk tetap menjalankan usaha. Keadaan itu menggerus pendapatan usaha, membuat cashflow usaha menjadi negatif.

Untuk waktu 3 bulan mungkin usaha dapat bertahan dengan cashflow negatif, tapi tidak untuk waktu 6 bulan atau lebih. Konsekewnsi atas itu, efisiensi harus dilakukan oleh usaha, yaitu mengurangan produksi, dan pengurangan biaya-biaya lainnya.

Mengacu pada pemahaman kondisi itu, berikut karakteristik usaha dengan peluang besar mampu menghadapi badai krisis Covid-19.  

1. Usaha dengan fundamental yang kuat

Usaha dengan fundamental yang kuat yaitu usaha yang memiliki modal, tangible dan intangible aset yang kuat. Usaha dengan cash money, aktiva lancar, dan aset tetap yang kuat akan lebih mudah beradaptasi melakukan berbagai program penyelamatan dan penyesuaian. 

Selain itu, loyalitas konsumen, dan segmen konsumen tertentu yang tahan terhadap krisis juga menentukan ketahanan usaha ditengah krisis Covid-19. 

2. Usaha yang konsisten dengan berbagai inovasi dan pengembangan

Usaha ini adalah usaha yang selalu mengusahakan perubahan. Krisis adalah berubahan. Dengan itu, usaha dengan karakteristik ini sudah siap sebelumnya menghadapi berbagai perubahan. Bahkan krisis dapat menjadi momentum bagi pengembangan produk yang sedang dilakukan.

3. Usaha dengan model bisnis fleksibel

Salah satu usaha dengan model bisnis felksibel adalah usaha perdagangan. Mengalihkan satu usaha perdagangan dari satu komoditas atau produk tertentu ke produk kesehatan atau produk yang dibutuhkan disaat krisis tidaklah mudah. Tapi usaha dengan model bisnis fleksibel setidaknya tidak memerlukan penyesuaian struktural secara menyeluruh. 

4. Usaha yang sumber dayanya dapat dialihkan sesuai permintaan kebutuhan dasar disaat krisis

Contoh dari usaha ini adalah usaha konveksi yang sumber dayanya langsung dapat dialihkan untuk memproduksi perangkat kesehatan.

5. Usaha dengan reputasi trusted

Reputasi trusted usaha dapat berupa kepercayaan konsumen atau klien, kepercayaan karyawan, kepercayaan kreditur, kepercayaan stakeholder dan stcokholder. Reputasi trusted yang dimiliki oleh sebuah usaha merupakan modal berharga untuk melakukan renegosiasi.

Hal-hal yang Tidak Terduga 

Tentunya karakteristik usaha diatas bukan sesuatu yang baku. Kemampuan usaha  menghadapi krisis Covid-19 tidak hanya dapat dilihat dari lima karakteristik diatas. Pada batas tertentu kemampuan usaha, finansial, manajemen, dan pasar dapat diukur. Tapi, situasi dan tindakan 'kecil' dilapangan atau hal yang tidak terduga dapat saja mengubah keadaan atau kemampuan sebuah usaha menjadi lebih maju dan berkembang walau ditengah krisis.  

  1. 0 Komentar
  2. 5 Dibagikan
Referensi

Ghoida Rahmah. Tempo, 13 April 2020. Perbankan Restrukturisasi Kredit, Berapa Potensi Angka NPL?. Link disini.

 

Gita Gopinath. IMF. 14 April , 2020. The Great Lockdown: Worst Economic Downturn Since the Great Depression. Link disini.

0 Komentar