Insan

Ini 8 Falsafah Nusantara sebagai Masyarakat Agraris yang Masih Dipegang Oleh Petani

Sebagai negeri agraris, falsafah hidup masyarakatnya tidak terepas dari corak keagrarisan, seperti "sopo nandur, ngunduh", " mangan ora mangan, kumpul", dan lainnya.

  1. 0 Komentar
  2. 3 Dibagikan
null

Falsafah masyarakat agraris tidak bisa lepas dari Nusantara, cikal-bakal Indonesia saat ini. Sejarah masyarakat Nusantara terkenal dengan peradabannya yang adiluhung, yang merupakan hasil kontemplasi dan buah karya khasanah atas ruang, alam dan ekosistem didalamnya dari manusia Nusantara.

Hamparan laut biru dengan kekayaannya dan hijau tetumbuhan dengan kesuburan tanahnya, menjadikan Indonesia sebagai negeri maritim, juga sebagai negeri agraris. Keduanya merupakan satu kesatuan.

Falsafah Hidup Masyarakat Agraris

Sebagai negeri agraris, falsafah hidup masyarakatnya tidak terepas dari corak keagrarisan. Falsafah hidup manusia Nusantara, dituangkan dalam tembang atau syair. Salah satunya, Serat Wulangreh karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta. Berikut adalah delapan falsafah hidup manusia nusantara. 

1. Sopo Nandur, Nguduh 

Artinya, siapa menanam, ia menuai. Landasan dasar falsafah ini berlakunya hukum sebab-akibat atas segala perbuatan manusia. Kesadaran atas falsafah ini setiap yang diakukan atau diperbuat oleh manusia ada konsekewnsinya. Nilai falsafah ini bahwa manusia harus waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan dan prilakunya.

2. Mangan Ora Mangan, Kumpul

Artinya, makan tidak makan, bersama. Falsafah ini sempat disalah-pahami maknanya, dikira perbandingan urgensi antara kemakmuran yang terkandung dalam kata “mangan” atau makan, dengan kebersamaan yang trekandung dalam kata “kumpul” atau bersama.

Mangan ora magan, kumpul” bermakna solidaritas antar sesama, rasa dan tanggung jawab senasib sepenanggungan. Bahwa dalam hidup, manusia itu harus mempunyai jiwa solidaritas antar sesamanya, perilakunya saling menolong, dan saling membantu antar sesama.

Sekarang, falsafah ini malah berlaku terbalik menjadi “kumpul ora kumpul, mangan” atau “bersama atau tidak bersama, makan”. Itu terjadi karena adanya pergeseran nilai yang juga menunjukan adanya pergeseran orientasi hidup. Nilai-nilai solidaritas hilang, tergantikan oleh nilai egosentrisme, sehingga prilaku yang berkembang adalah individualisme.

3. Urip Iku Urup 

Urip iku urup”, hidup itu menyala. Menyala disini bukan berarti nyala api, tetapi memancarkan cahaya kehidupan. Artinya, hidup itu menebarkan cinta dan kasih sayang, bermanfaat dan tidak merusak kehidupan.

4. Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku

Artinya, ilmu itu diraih atau dikuasasi dengan melakukan atau mengamalkan. Makna falsafah ini sudah jelas, sesuai artinya. Namun, secara implisit falsafah ini juga mengandung makna bahwa manusia hendaknya selalu berfikir dan berbuat, atau berbuat dan berfikir, kristaisasi keduanya melahirkan ilmu.

5. Sing Sapa Temen, Tinemu

Artrinya, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Falsafah ini mewakili satu kata, yaitu totalitas. Prinsip melakukan segala sesuatu dengan total, tidak setengah-setengah.

6. Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih, Memayu Hayuning Bawana

Artinya, giat bekerja atau membantu dengan tanpa pamrih, memelihara dan memperindah kehidupan. Makna falsafah ini sesuai artinya. Namun, falsafah ini mengalami pergeseran, menjadi terbalik. Indikasinya muncul tren atau istilah pencitraan yang secara implisit menyatakan pamrih tanpa berdasarkan apa yang sudah dikerjakan.

7. Sing Sapa Durung Wikan Anane Jaman Kelanggengan Iku, Aja Ngaku Dadi Janma Linuwih

Artinya, siapa yang belum memahami atas keyakinan adanya keabadian dalam perjalanan manusia, jangan mengaku sudah menjadi manusia mulia. Kelanggengan atau keabadian dapat juga diartikan alam keabadian, bahwa manusia itu hidup abadi, ada kehidupan setelah kematian. 

Sedangkan terjemahan untuk kata “linuwih”, bisa artikan orang yang mulia atau orang yang bermartabat. Karena, pada falsaha itu kata “linuwih” lebih dari sekedar ketinggian kedudukan, kekayaan dan kesakitan, tapi budi pakerti, ahlak yang baik.

8. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno

Artinya, jangan semena-mena, sombong, dan sewenang-wenang. Makna falsafah ini, dalam posisi dan keadaan apapun manusia tidak boleh, semena-mena, sombong dan sewenang-wenang. Potensi sombong dan sewenang-wenang pun bisa terjadi dalam keadaan atau posisi yang tidak menguntungkan.

Petani Di Desa Masih Mematuhinya

Falsafah diatas masih dipegang oleh masyarakat agraris khususnya di perdesaan. Pada sebagain masyarakat lainnya falsafah warisan masyarakat Nusantara itu sudah mulai luntur. Itu dikarenakan pengajaran secara turun-temurunnya terputus, dan perubahan menjadi masyarakat industri yang tidak mengacu pada pengembangan pembangunan dan budaya agraris juga menjadi sebab utama lainnya.

Setiap daerah Nusantara memiliki falsafah hidup yang berbeda-beda. Namun, perbedaan itu hanya terletak pada cara pengekspresiannya saja, sedangkan untuk kedalamannya dan khasanahnya sama.

img: GenAgraris.ID 

Terakhir ditinjau & diperbaharui: 23 November 2019

  1. 0 Komentar
  2. 3 Dibagikan
Referensi
http://thefilosofi.blogspot.com/2016/04/101-falsafah-kejawen-ajaran-mencapai.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Wulang_Reh

0 Komentar