Tradisi

Garam Amed, Produk Istimewa Warisan Budaya Dari Bali Timur

Dengan segala keterbatasan lahan, musim, dan alat-alat untuk memproduksi garam, 25 petani garam Amed yang tersisa tetap berjuang mempertahankan warisan leluhur agar tetap lestari.

  1. 1 Komentar
  2. 1 Dibagikan
Garam Amed, garam istimewa dari Bali.

Pulau Bali telah lama dikenal dunia akan pesona baharinya, namun siapa sangka, bukan hanya ragam biota dan taman lautnya saja yang istimewa tetapi juga hasil laut lain berupa garam. Adalah Amed, sebuah desa di Bali Timur yang masyhur sebagai pusat snorkeling dan diving, menyimpan harta karun yang dihasilkan oleh air lautnya.

Garam Amed, Ada Sejak 1578

Memproduksi garam merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian penduduk pesisir Bali sejak berabad-abad yang lalu. Garam juga merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan antara Bali, Lombok, dan Batavia di abad ke-17. Kapal-kapal dari Bali yang berlayar ke Batavia membwa muatan garam, di samping komoditas lainnya.

Sedangkan, garam Amed itu sendiri, telah dikenal sebagai garam bermutu tinggi sejak masa kerajaan Karangasem sekitar tahun 1500 Saka atau 1578 Masehi, dimana masyarakat Amed diminta oleh Raja untuk memberikan garamnya sebagai pajak persembahan kepada Raja. Saat itu Garam Amed memiliki nilai setara dengan satu bakul beras atau bahan pangan lainnya seperti ubi, jagung atau talas.

Saat itu, wilayah produksi Garam Amed mencapai luasan ratusan hektar, dari timur hingga barat warga berprofesi sebagai petani garam. Namun, seiring perkembangan pariwisata yang pesat, banyak petani garam yang menjual lahannya hingga beralih fungsi menjadi restoran, hotel, kafe dan tempat aktifitas pariwisata lainnya. Kini hanya tersisa 10 hektar lahan pertanian garam yang berada di Banjar Amed dan Banjar Lebah.

Proses Produksi Khas Garam Amed

Dengan segala keterbatasan lahan, musim, dan alat-alat untuk memproduksi garam, 25 petani garam Amed yang tersisa tetap berjuang mempertahankan warisan leluhur agar tetap lestari dan dengan bangga mempersembahkan garam murni Amed sebagai produk lokal bernilai tinggi.

Proses tradisional garam Amed yang unik dan khas membedakannya dari garam lain. Proses produksi menggunakan tanah sari tinjungan, proses penyusuan, pengeringan dalam batang kelapa, dan memakai air laut yang jernih dan berkualitas baik sehingga menghasilkan rasa yang asin yang gurih.

Keistimewaan garam Amed ini dibuktikan dengan perolehan sertifikat Indikasi Geografis yang dikeluarkan oleh Ditjen Hak dan Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Indonesia. Hal tersebut juga memberikan jaminan mutu dan keaslian garam Amed Bali.

Menukung Eksistensi Garam Amed

Garam Amed memang tidak begitu popular bagi masyarakat Indonesia, meskipun tidak asing bagi para wisatawan yang seringkali membeli garam Amed sebagai cinderamata. Permintaan ekspor juga tidak bisa dipenuhi karena dalam satu musim petani garam Amed hanya bisa memproduksi satu ton garam saja, total hanya 20 ton garam saja yang bisa diproduksi oleh para petani.

Maka, dengan membeli dan menggunakan garam Amed, tentunya kita telah turut membantu melestarikan warisan budaya pertanian garam tradisional Amed serta membantu ekonomi petani garam Amed yang telah bertahan dan bekerja keras hingga saat ini.

  1. 1 Komentar
  2. 1 Dibagikan
Referensi

Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis. Buku Persyaratan Indikasi Geografis Garam Amed Balli. 2015. Bali

 

Yety Rochwulaningsih, Mahendra P. Utama, Singgih Tri Sulistyono. 2019. Teknologi Garam Palung Sebagai Warisan Sejarah Masyarakat Pesisir Bali. Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol. 4 (1). Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang

1 Komentar

  • Bima Herlambang

    4 bulan lalu

    Dimana saya bisa dapetin garama amed?