Agro Ekonomi

Covid-19, Panen Raya, & Nasib Petani

Berkaca pada apa yang terjadi di negara lain, dalam atau tidak, disrupsi rantai pasok yang disebabkan oleh wabah Covid-19 tidak terhindarkan. 

  1. 0 Komentar
  2. 2 Dibagikan
Gabah Kering Giling

Beberapa daerah sudah mulai panen raya lebih awal. Sebagian daerah di Tasikmalaya, Cilacap, Banten, dan Purwakarta sudah mulai panen padi sejak akhir Maret. Disusul daerah lainnya, panen raya padi awal tahun 2020 ini banyak yang menyatakan optimistis mampu untuk menghadapi wabah Covid-19.

Harga Gabah Di Tingkat Petani Saat Panen Raya

Optimisme itu berbanding terbalik dengan harapan petani. Seperti biasa, setelah petani menunaikan tugasnya, menanam untuk memenuhi kebutuhan pangan, ketika akan menjual hasil panen harga gabah jatuh. Angin segar HPP gabah kering panen (GKP) sebesar Rp.4.200 yang ditetapkan melalui Permenda No.24 yang terbit sekitar minggu lalu, seolah hanya buaian belaka.

Dilapangan banyak petani padi menjerit. Seperti petani di Taliwang, Sumbawa Barat. Dliangsir dari ArkiFM, petani diasan menjual gabah dengan harga Rp.3.600. Itu senada dengan pernyataan presiden hari ini (21/04/2020). Dilangsir dari Antara, pada rapat terbatas 'antisipasi kebutuhan pokok', presiden menyatakan harga gabah kering dilapangan turun 5%, sedangkan harga beras naik 0,4%. Tentunya itu aneh. Tapi, kalau penurunan harga gabah disaat panen itu sudah tradisi.

Sekarang anggaran untuk menyerap gabah petani yang biasa dilakukan oleh Bulog menurun. Bahkan, seperti pernyataanya pada media, tersirat ada opsi Bulog diminta untuk menggunakan kredit komersil perbankan dalam penyerapan gabah petani sebagai cadangan atau pengamanan pangan ditengah wabah Covid-19. Tentunya itu tidak masuk akal.   

Seperti diketahui, selama ini Bulog menggunakan pinjaman kredit komersial perbankan untuk membeli gabah yang akan diolah menjadi cadangan beras milik pemerintah. Namun, pemerintah hanya mengganti dana pinjaman tersebut dari selisih harga beras antara harga pengadaan dan jual. Adapun rata-rata anggaran yang disediakan sekitar Rp 2,5 triliun.

HPP Tidak Efektif

Dengan model penyerapan Bulog diatas, penetapan HPP gabah kering panen (GKP) oleh pemerintah menjadi tidak bunyi atau sia-sia. Mekanisme pembentukan harga tetap saja ditentukan oleh pasar. Pembelian gabah petani oleh Bulog yang berasal dari pinjaman komersil tentunya akan ada biaya bunga.

Mengingkat pemerintah hanya mengganti dana pinjaman kredit komersil dari selisih harga beras antara harga pengadaan dan jual, dalam penyerapan gabah petani disaat panen raya, intinya Bulog dituntut untuk tidak rugi, atau kalau bisa untung.

Waspada Disrupsi Rantai Pasok Bahan Pangan  

Panen raya ini waktu yang tepat untuk mengamankan stok beras terutama dalam rangka menghadapi wabah Covid-19. Jika sampai terlambat, ada kemungkinan harga beras akan bergerak tidak terkendali. Berkaca pada apa yang terjadi di negara lain, dalam atau tidak, disrupsi rantai pasok yang disebabkan oleh wabah Covid-19 tidak terhindarkan. 

  1. 0 Komentar
  2. 2 Dibagikan
Referensi

Dedy Darmawan Nasution. Republika, 15 Aril 2020. Bulog Minta Cadangan Dana untuk Perkuat Penyerapan Gabah. Link disini.

 

ArkiFM. 20 April 2020. Petani di KSB Menjerit, Harga Beli Gabah Jauh Dibawah HPP. Link disini.

0 Komentar