Kepemimpinan

ACTION Sebagai Pengembangan Karakter Pemimpin Cerdas Secara Emosional

Pengembangan diri untuk menjadi pemimpin yang cerdas secara emosional dapat dengan pengembangan karakter ACTION.

  1. 0 Komentar
  2. 0 Dibagikan
null

Pemimpin

Menjadi pemimpin bukanlah hal mudah. Tanggung jawabnya tidak hanya melulu soal pencapaian target perusahaan tetapi juga produktivitas dan kinerja karyawan yang mendukung pencapaian target tersebut. 

Maka dari itu, sebagai seorang pemimpin harus mampu menggembleng diri sendiri, mempelajari banyak hal, dan terus menerus mengembangkan diri sehingga tidak hanya menjadi pemimpin yang tidak hanya berorientasi pada target perusahaan, tetapi juga disegani oleh karyawan karena sikap dan tindakan yang menunjukkan kecerdasannya secara emosional.

Menurut Dr. Patricia Patton dalam bukunya “EQ Pemimpin Sukses”, tindakan memang merupakan komponen penting dalam pemberdayaan kecerdasan emosional (EQ). Karyawan akan selalu melihat keselarasan atara tindakan dan perkataan seorang pemimpin. 

ACTION

Untuk itu pemimpin perusahaan harus memiliki kecerdasan emosional. Pengembangan diri untuk menjadi pemimpin yang cerdas secara emosional dapat dengan pengembangan karakter ACTION, sebagai beikut:

1. Autonomy (Otonomi)

Memberi kebebasan mengembangkan rencana dan mengimplementasi keputusan secara konsiten merupakan hal yang penting dalam tim. Setiap anggota tim perlu tahu bagaimana mereka melakukan pekerjaannya namun seorang pemimpin harus tetap terbuka terhadap saran dan perbaikan dari mereka. 

Sebagai pemimpin, yang wajib dilakukan diantaranya memotivasi anggota tim untuk menjalankan dan bertanggung jawab terhadap gagasannya. Seorang pemimpin juga wajib men-support aggota timnya dengan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan, memberikan wewenang dalam membuat keputusan serta mengizinkan pengambilan tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. 

Jangan lupa, seorang pemimpin juga harus tetap menjaga fokus hasil akhirnya dan mempercayakan sepenuhnya dengan mengontril tim untuk menentukan cara terbaik dengan mencapai hasilnya.

2. Consideration (Pertimbangan)

Pemimpin seringkali memfokuskan pada keuntungan dan kebutuhan perusahaan saja, dan jarang memperhatikan kondisi karyawan atau tim pendukungnya. Padahal, karyawan seharusnya memiliki prioritas yang sama dengan pelanggan, karena mereka juga merupakan pelanggan internal perusahaan. 

Pertimbangan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu haruslah mencakup empati, apresiasi, perhatian, penghormatan dan penghargaan kepada individu-individu yang bertanggung jawab membuat perusahaan beroperasi dengan lancar. 

3. Timing (Penentuan Waktu)

Menyadari pentingnya waktu merupakan aspek penting dalam bertindak. Tokoh-tokoh sukses adalah mereka yang mengetahui pentingnya bertindak pada waktu yang tepat serta menggunakan waktu dengan bijaksana. 

Sama halnya dengan bisnis, seorang pemimpin harus mengetahui waktu, dan momentum. Misalnya dalam peluncuran produk baru atau memperisapkan, cara membuat momentum untuk peluncuran produk baru tersebut. Pemimpin harus menyadari dan memahami momentum-momentum bisnis, sehingga dapat memanfaatkan peluang menjadi sebuah keuntungan.

4. Initiative (Inisiatif)

Sebuah tindakan dapat bersifat reaktif dan proaktif, tergantung pada jenis masalah yang dihadapi dan bagaimana cara merespon kondisi sekitar. Namun, apapun krisis yang dihadapidalam proses bisnis, ada baiknya jika seorang pemimpin dapat terlebih dahulu mengendalikan emosi sebelum mengambil inisiatif untuk memecahkan masalah. 

Tindakan ngawur yang didasari oleh emosi tidak akan mengubah situasi atau bahkan justru membuatnya semakin memburuk, untuk itu inisiatif harus dikombinasikan dengan kebijaksanaan, penetapan waktu yang tepat dan dengan pertimbangan yang matang.

5. Outcome (Hasil)

Foku pada hasil merupakan pola pikir yang produktif. Hal tersebut akan membuat seorang pemimpin dan timnya menjadi lebih fokus pada satu tujuan yang sama. Tujuan yang jelas dan terukur membantu anggota tim untuk berkontribusi menuangkan dan mengimplementasikan idenya untuk merencanakan langkah-langkah strategis dalam meraih hasil yang diharapkan. 

Seorang pemimpin yang cerdas secara emosional juga akan menetapkan hasil berlandaskan ideologi menang-menang (win-win), keharmonisan emosi, aliansi progresif, membangun hubungan positif dan menggapai tujuan dengan spirit kerjasama.

6. Negoitable (Dapat dinegosiasikan)

Keterampilan negosiasi sangat penting bagi seorang pemimpin. Untuk mencapai situasi menang-menang (win-win) segala tindakan harus dinegosiasikan agar dapat memberdayakan karyawan atau tim dengan efektif. 

Sikap keras kepala, sombong dan pandangan yang sempit akan menghambat seorang pemimpin memperoleh hasil yang positif dan kesuksesan jangka panjang. Maka, memiliki kemampuan membuat konsensus dalam menggapai tujuan tanpa kehilangan dukungan merupakan keterampilan yang berharga bagi seorang pemimpin bisnis. 

 

Sumber :
Dr. Patricia Patton. EQ Pemimpin Sukses. 2011

 

  1. 0 Komentar
  2. 0 Dibagikan
Referensi

0 Komentar