AgTech

5 Teknologi Untuk Mengatasi Ketersediaan & Pemanfaatan Air yang Efektif & Efisien

Sebagai sumber daya vital, keberadaan dan ketersediaan air, dalam pengelolaannya dikembangkan berbagai teknologi, seperti teknologi hujan buatan, fog harvesting, irigasi pintar, dan ASRG.

  1. 0 Komentar
  2. 0 Dibagikan
null

Dalam kehidupan manusia, air memegang peranan vital, yaitu salah satu factor penentu keberlangsungan kehidupan. Seiring dengan pertambahan penduduk, peningkatan kebutuhan pangan, dan laju industralisasi yang terus berkembang kebutuhan air semakin nyata, tidak terbatas untuk prosses kehidupan. Penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian dan industri terus mengalami peningkatan tajam.

Air Sebagai Sumber Daya Vital 

Sebagai sumber daya alam, sumber daya yang secara alamiah sudah tersedia di alam, keberadaan dan ketersediaan air ditentukan oleh proses alam, yaitu iklim dan cuaca. Indonesia sendiri sebagai negara yang terletak diwilayah katulistiwa, merupakan negara dengan iklim tropis, dinaungi oleh dua musim, musim penghujan dan musim kemarau.

Kegiatan bertani, bercocok-tanam, atau bidang pertanian sebagai kegiatan pengolahan sumber daya alam tidak bisa terlepas dari keberadaan dan ketersediaan air. Musim hujan identik dengan musim tanam, sekaligus juga menunjukan keberadaan air sebagai sumber daya yang vital. Sebaliknya, di musim kemarau tidak lantas berhenti menanam, tapi tanah dan tanaman diolah dengan pengelolaan air sedemikian rupa hingga tetap memenuhi kebutuhan penanaman.

Untuk menjaga ketersediaan air dimusim kemarau, guna menghindari kekeringan yang parah, dan pengendalian air dimusim penghujan, guna menghindari terjadinya banjir atau suplai berlebih, dibutuhkan kearifan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam.

Teknologi Pengelolaan Ketersediaan & Keberadaan Air

Seiring dengan perkembangan jaman, teknik pengelolaan ketersediaan dan keberadaan air juga ditempuh dengan pengembangan teknologi. Baik untuk menanggulangi kebakaran di muasim kemarau, dan penggunaan air yang tertakar dan terukur dimusim penghujan, berikut 5 teknologi untuk mengatasi ketersediaan air dan pemanfaatan pengelolaan air yang efektif dan efisien.

1. Teknologi Hujan Buatan

Teknik hujan buatan pertama kali diperkenalkan oleh Ilmuan Amerika Serikat, Vincent Joseph Schafer. Pada tahun 1946, Schafer dan timnya berhasil membuat badai salju pertama di laboratorium. Bermula dari situ, ia memulai teknik pembuatan awan dan berhasil membuat hujan buatan dengan menaburkan bahan kimia ke awan.

Sampai saat ini, teknologi hujan buatan terus dikembangkan. Teknologi hujan buatan merupakan intervensi atau campur tangan manusia terhadap proses-proses cuaca yang terjadi di atmosfer, sehingga terjadilah proses penumpukan penggabungan butir-butir air didalam awan lalu turun menjadi hujan.

Walau dapat mempengaruhi cuaca, membentuk hujan sebelum waktu alamiahnya, keberhasilan penerapan teknologi hujan buatan tetap bergantung pada keberadaan, ketersediaan dan kualitas awan yang ada. Dengan menaburkan bahan kimia, awan dengan kadar potensi hujan 70% dapat distimulus untuk segera berubah menjadi hujan.

2. Smart Irrigation Atau Teknologi Irigasi Pintar

Teknologi irigasi pintar atau smart irrigation merupakan rangkaian sistem yang terdiri dari penjadwalan pengairan tanaman dengan waktu penyiraman yang ditentukan dan dijadwalkan secara otomatis dan banyaknya debit air yang dibutuhkan untuk penyiraman tanaman disuatu lahan disesuaikan dengan keadaan tanah dan cuaca saat itu.

Teknologi irigasi pintar yang berkembang saat ini tidak hanya sebatas pada pengaturan jadwal dan kuantitas penyiraman. Teknologi ini sudah berkembang, terintegrasi dengan pemantauan cuaca, kondisi tanah, penguapan untuk menentukan waktu dan jumlah air yang dibutuhkan untuk setiap penyiraman tanaman.

Teknologi irigasi pintar dapat dapat digolongkan kedalam dua jenis, Weather-Based dan Soil Moisture Sensors. Untuk Weather-Based biasanya implementasinya dengan teknik penyiraman model sprinkle. Untuk Soil Moisture Sensors biasanya implementasinya dengan teknik penyiraman model drip.

3. Aquifer Storage and Recovery Groundwater (ASRG), Teknologi Pengelolaan Air Tanah

Teknologi ini utamanya dibangun untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau pada segmen pengguna air rumah tangga. Teknologi ASRG dapat dibangun di lingkungan padat penduduk, seperti di areal masjid, sekolah, lapangan, dan landasan pacu pesawat.

Metode teknologi ASRG atau imbuhan air tanah merupakan teknik manajemen sumber daya air. Secara teknis air dimasukan ke dalam batuan yang permeabel melalui sumur bor, disimpan dalam beberapa bulan sampai beberapa tahun untuk kemudian diambil kembali.

Filosofi yang mendasari dari konsep ini adalah optimalisasi potensi sebagai underground reservoir sebagai tempat menyimpan air (recovery water) dan tempat pengambilan/cadangan air (store water). Mengingat kebutuhannnya yang mendesak, metode dan komponen teknologi ini terus dikembangkan.

4. Ekohidro

Teknologi ekohidro merupakan sistem tata kelola air di lahan gambut untuk mengatur jumlah dan tinggi muka air berdasarkan zona dan kontur. Prinsip dasar teknologi ekohidro adalah pengaturan muka air tanah pada lahan gambut dengan menggunakan hydro buffer dan selang kontur (gradient) sebagai pengukurnya dimana kelebihan dan kekurangan air ditampung dan diambil dari bendungan atau dam.

5. Teknologi Panen Kabut (Fog Harvesting)

Panen atau penangkapan kabut sebagai sumber air sudah dikenal oleh masyarakat, terutama masyarakat pencinta alam, atau orang-orang yang mempunyai hobi mendaki gunung. Panen atau penangkapan kabut untuk dijadikan air dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau.

Kabut memiliki potensi sebagai penyedia sumber air tawar alternatif di daerah kering dan dapat dipanen melalui penggunaan sistem pengumpulan sederhana dan murah. Air yang ditangkap kemudian dapat dipanen dan digunakan baik untuk keperluan rumah tangga maupun penyiraman tanaman, untuk pertanian. Teknologi pemanenan kabut terdiri dari jaring jala lapisan tunggal atau ganda yang didukung oleh dua tiang yang yang ditanam di tanah.

Kelebihan dari teknologi panen kabut atau fog harvesting diantaranya, airnya bersih, memenuhi standar organisasi kesehatan dunia, dan dampak lingkungannya minimal. 

 

  1. 0 Komentar
  2. 0 Dibagikan
Referensi

Humas BBPT, Diakses 8 Oktober 2019. Teknik. Hujan Buatan, Tanggulangi Kemarau Berkepanjangan & Kebakaran Hujan. (https://www.bppt.go.id)

 

BMKG. Diakses 9 Oktober 2019. BMKG: Analisis Potensi Awan Hujan untuk Teknologi Modifikasi Cuaca. (https://www.bmkg.go.id)

 

Kompas. Diakses 9 Oktober 2019. Penemuan yang Mengubah Dunia: Hujan Buatan, Lahir karena Gangguan Perjalanan Pesawat. (https://sains.kompas.com)

 

Puslitbang Sumber Daya Air, Kemen PUPR, Desember 2014. Naskah Kebijakan Penerapan Aquifer Storage and Recovery (ASR).

 

Hydropoint. Diakses 10 Oktober 2019. “What is Smart Irrigation?”. (https://www.hydropoint.com)

 

ClimateTechWiki. Diakses 20 Oktober 2019. “Fog harvesting”. (https://www.climatetechwiki.org)

0 Komentar