A-Z Hama Tanaman

Rattus argentiventer (Tikus Sawah)

Selain serangga yang menjadi hama pada pertanaman padi, diketahui bahwa hewan pengerat tikus, Rattus argentiventer, juga dikenal sebagai hama padi di Indonesia. Hama tikus sawah tersebut mampu merusak semua fase dari tanaman padi, yaitu mulai dari fase vegetatif sampai fase generatif.

Pada pertanaman padi fase vegetatif, sarang hama tikus sawah biasanya berukuran pendek dan dangkal. Sedangkan pada masa generatif, sarang Hama tikus sawah akan berukuran lebih dalam, bercabang, dan luas.

Kerusakan yang disebabkan oleh hama tikus sawah ini seringkali menyebabkan kerugian ekonomi. Kehilangan hasil akibat serangan hama tikus sawah diperkirakan dapat mencapai lebih dari 200.000 ton/tahun.

Gejala

Beberapa gejala serangan dari hama tikus sawah ini yaitu ditemukan banyak tikus did sekitar pertanaman padi. Selain itu, ditemukan gejala batang tanaman padi yang dipotong oleh keratan gigi seri dari tikus yang tidak simestris.

Penanganan dan Pencegahan

Usaha penanganan dan pencegahan yang intensif terhadap hama tikus sawah ini yaitu

  1. Secara kultur teknis, penanaman padi secara serempak. Hal ini bertujuan untuk mengurangi peluang tikus untuk menetap lama di persawahan. Karena ketika tanam serempak dilakukan, make ketersediaan pakan tikus tersebut tidak tersedia terus menerus.
  2. Sanitasi, berupa menjaga kebersihan persawahan dan lingkungan sekitar sawah.
  3. Secara hayati, pemanfaatan musuh alami tikus sawah, seperti ular sawah, buying hantu (Tito alba), dan musang sawah.
  4. Secara mekanis, pembuatan pagar plastik dan sistem bubu, serta pemasangan perangkao yang diletakkan pada sudut pagar plastik.
  5. Secara kimiawi, penggunaan rodentisida dengan bahan aktif broditakum, bio madiolon, dan belerang. Selain itu, melakukan fumigasi lubang aktif/ liang sarang Dari hama tikus sawah ini.
  6. Penggunaan racun tikus secara alami. Aplikasi ”Brotokol” yang merupakan perpaduan antara brotowali dan jengkol brotowali (Tinospora crispa), yang memiliki senyawa kimia antara lain zat pahit pikroretin-barberin, hijau daun (chlorofil) alkoloid, dan senyawa tinokrisposid.

 

---------------------------------------
Disusun oleh : Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

Priyambodo S. 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Jakarta: Penebar Swadaya.


Lukmanjaya G, Kusuma FD, Susanti H. 2012. "Brotokol" Pengusir Hama Tikus Ramah Lingkungan Penoapng Pertanian. Jurnal Ilmiah Mahasiswa 2 (1): 49-55