A-Z Budidaya

Salak (Salacca zalacca)

Salak (Salacca zalacca) merupakan tanaman asli Indonesia dan tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Dengan jenis yang beragam, biasanya salak diberi nama sesuai dengan wilayah budidayanya, contoh jenis salak yang dibudidaya di Bali disebut salak Bali.

Botani

Sistematika

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Magnoliophyta
  • Kelas : Liliopsida
  • Ordo : Arecales
  • Famili : Arecaceae (Palmae)
  • Genus : Salacca
  • Spesies : S. zalacca

Morfologi

  1. Akar: tanaman ini berakar serabut dan menjalar mendatar di bawah permukaan tanah. Perkembangan akar tanaman salak dipengaruhi oleh cara pengolahan tanah, pemupukan, tekstur tanah, sifat kimia dan fisik tanah, lapisan bawah tanah, dan faktor lainnya.
  2. Batang: pendek dan hapir tidak kelihatan karena batangnya memiliki ruas padat dan tertutup pelepah daun yang rapat.
  3. Daun: tersusun roset dan pelepah bersirip terputus-putus dengan bentuk seperti pedang.
  4. Bunga: berukuran kecil dengan tumbuh rapat menjadi satu rangkaian dipunggung ketiak daun.
  5. Buah dan biji: buah salak berbentuk bulat atau lonjong seperti telur terbalik, dengan bagian ujung runcing, kulit buah terdapat sisik-sisik yang bersusun dan berwarna coklat kehitamam, daging buah berwarna putih agak kuning atau merah, dengan rasa buah nabis, agak asam maupun sepet, serta biji berwarna coklat.

Varietas atau Jenis-jenis Tanaman

Salak memiliki beberapa varietas unggul berdasarkan tekstur daging buah, warna kulit buah, besar buah, aroma, dan rasa daging buah, serta habitus. Di Indonesia, varietas salak yang paling terkenal yaitu salak Bali dan salak Pondoh.

Varietas salak Bali sendiri memiliki beoberapa varietas turunan, diantaranya Salak Gula Pasir, Nyuh, Cengkeh, Boni, Sepet, Gondok, Putih Maong, Nangka, Nenas, Pada, dan Injin. Sedangkan varietas Salak Pondoh sendiri juga memiliki beberapa varietas turunan, diantaranya: Salak Pondoh Hitam, Salak Pondoh Merah, Salak Pondoh Merah Hitam, Salak Pondoh Merah Kuning, Salak Pondoh Gading, Salak Pondoh Madu, Salak Pondoh Lumut, dan Salak Pondoh Super.

Sebaran

Salak merupakan tanaman asli asal Indonesia dan tersebar hampir di seluruh wilayah di Indonesia dan beberapa wilayah di luar Indonesia, seperti Malaysia, Mulucca, Papua New Guinea, Filipina, Queensland (Australia), dan Kepulauan Fiji.

Syarat Tumbuh

Untuk budidaya tanaman salak, beberapa syarat tumbuh yang harus terpenuhi, yaitu:

Iklim

  1. Dapat tumbuh baik dan berproduksi dataran rendah sampai ketinggian 900 m di atas permukaan laut.
  2. Curah hujan merata, dengan rata-rata 200-400 mm pertahun.
  3. Intensitas cahaya matahari cukup, yakni sekitar 50-70 %, sehingga diperlukan tanaman peneduh.
  4. Suhu optimal yakni 20-30o , artiya kondisi iklim harus lembab namun tanaman ini tidak dapat tahan dengan genangan air.

Tanah

  1. Jenis tanah subur, banyak mengandung bahan organik, gembur dan aerasi tanah baik.
  2. Derajat keasaman tanah (pH) optimum untuk budidaya salak adalah 4,5 - 7,5.
  3. Tanaman ini tidak dapat tumbuh optimal pada tanah-tanah yang tergenang air.

Pembenihan/Pembibitan

Bentuk Bibit/Benih

  1. Untuk perbanyakan tanaman dapat dilakukan dari biji (cara generatif) dan dengan cara cangkok (cara vegetatif).
  2. Petani salak sebelumnya lebih banyak budidaya tanaman ini dengan biji, namun karena banyak kelemahannya, maka kemudian banyak digunakan cara cangkok.
  3. Keuntungan yang diperoleh dari perbanyakan tanaman dengan cara cangkok, diantaranya: a) akan diperoleh tanaman yang mempunyai sifat-sifat unggul seperti induknya, b) bibit yang dihasilkan pasti betina, dan c) setelah dipindah tanam akan lebih cepat berbuah dibanding tanaman yang diperbanyak dengan biji.

Metode pembenihan/pembibitan

Penyiapan Bibit

1. Bibit dari Biji:

  • bersihkan sisa-sisa daging buah yang masih menempel pada biji salak.
  • rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.

2. Bibit dari Anakan:

  • Pilih anakan yang berasal dari induk yang baik
  • Siapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanah

Teknik Penyemaian Bibit

1. Bibit dari Biji:

  • Biji salak yang telah direndam dan dicuci bersih, lalu dimasukkan kedalam kantong plastik yang sudah dilubangi dan diletakkan di tempat teduh dan lembab sampai kecambah berumur 20-30 hari.
  • Berikan pupuk Urea, TSP dan KCl, masing-masing 5 gram, tiap 2-3 minggu sekali
  • Untuk menjaga kelembaban, maka perlu dilakukan penyiraman setiap hari

2. Bibit dari Anakan dengan pesemaian bak kayu:

  • Buat bak kayu dengan ukuran tinggi 25 cm, dengan lebar dan panjang sesuai kebutuhan di lapangan
  • Isi bak kayi dengan tanah subur dan gembur setebal 15-20 cm
  • Tambahkan pasir setebal 5-10 cm diatas tanah
  • Rendam benih dalam larutan hormon seperti Atonik selama 1 jam, konsentrasi larutan 0,01-0,02 cc/liter air
  • Pada bak pesemaian, tanam biji dengan jarak 10 x 10 cm

Budidaya

Tanaman salak biasanya ditanam pada awal musim hujan, yakni terjadi pada bulan November atau Desember setiap tahunnya. Saat itu tanah mengandung cukup air yakni sebesar 60-80%.

Metode penanaman

  1. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 1 x 4 m; 2 x 2 m atau 1,5 x 2,5 m.
  2. Ukuran lubang dapat juga dibuat 50 x 50 x 40 cm, dengan jarak antar 2 x 4 m atau 3 x 4 m.
  3. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 10 kg
  4. Biji ditanam langsung dalam lubang sebanyak 3- 4 biji per lubang.
  5. Sebulan kemudian biji mulai tumbuh.

Perawatan & pengairan

1. Penjarangan dan Penyulaman

  • Dilakukan pada bulan ke-4 atau ke-5 setelah tanam
  • Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil.
  • Biasanya, Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman.

2. Penyiangan

  • membuang dan membersihan rumput-rumput atau gulma atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak.
  • Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam.
  • Penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun.
  • Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.

3. Pengairan dan Penyiraman

Dalam budidaya salak, selama pertumbuhan, kebutuhan akan air harus tercukupi, untuk itu kita perlu memberi air dengan waktu, cara dan jumlah yang sesuai.

Pemupukan

  1. Tanaman umur 0-12 bulan (1 x sebulan): menggunakan pupuk kandang 1000, Urea 5 gram, TSP 5 gram, KCl 5 gram.
  2. Tanaman umur 12-24 bulan (1 x 2 bulan): Urea 10 gram, TSP 10 gram, KCl 10 gram.
  3. Tanaman umur 24-36 bulan (1 x 3 bulan): Urea 15 gram, TSP 15 gram, KCl 15 gram.
  4. Tanaman umur 36–dst (1 x 6 bulan): Urea 20 gram, TSP 20 gram, KCl 20 gram.

Hama & Penyakit

Hama penting pada tanaman salak dianataranya yaitu: Pseudococcus sp. dam Silphidae (Coleoptera). Sedangkan penyakit penting pada tanaman salak diantaranya yaitu Bercak Daun, Busuk Bunga, dan Busuk buah.

Panen

Dilakukan dengan melihat masak buah, yang ditandai dengan warna kulit yang mengkilat, buah sudah berbau harum, ketika buah ditekan terasa empuk, dan mudah dilepas dari tandannya.

Cara panen

  • Dilakukan petik pilih. karena buah salak masaknya tidak serempak
  • Dalam pemanenan hanya dipilih buah yang sudah masak.
  • Pemanenan buah dilakukan dengan cara memotong tangkai tandannya..
  • Jika buah akan disimpan lama, maka pemetikan dilakukan pada saat buah salak tua.
  • Buah salak yang telah dipetik selanjutnya dilakukan pemilihan, pengelompokan dan pengemasan.
  • Pemilihan bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dan seragam dna berkualitas.
  • Buah salak yang sudah dikelompokan dilakukan pengemasan.
  • Kotak pengemasan harus berlubang, kuat dan mudah diangkut ke tempat pemasaran atau tujuan.

 

 

--------------------------------------

Disusun oleh: Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

Prihatman K (Editor). 2000. Teknologi Tepat Guna Budidaya Pertanian: Salak. Sistem Indormasi Manajemen Pembangunan di PErdesaan, BAPPENAS> Deputi Mengristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyrakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jakarta.

 

Suarsana IN, Kumbara AANA, Satriawan IK. 2015. Teknologi Tepat Guna Panduan Praktis Tanaman Sayuran dan Perkebunan. Lembaga Penelitian dan Pengabidia Kepada Masyarakat, Universitas Udayana.