A-Z Budidaya

Kentang (Solanum tuberosum L)

kentang

Kentang (Solanum tuberosum L) secara sistematika termasuk kedalam genus Solenum dan Family Solenaceae (terung-terungan). Kentang merupakan jenis tanaman umbi yang mengandung karbohidrat tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan makanan pengganti makanan pokok masyarakat Indonesia. Kentang merupakan salah satu makanan pokok dunia setelah beras dan gandum.

Secara morfologi, kentang terdiri dari daun, batang, akar, bunga , dan umbi. Daun tanaman kentang rimbun dan terletak berselang-seling pada batang tanaman, berbentuk oval agak bulat dengan ujung yang meruncing dan warna daun mulai dari hijau muda sampai hijau tua hingga kelabu. Batang tanaman kentang berbentuk segi empat atau segilima, tergantung varietasnya, tidak berkayu dan bertekstur agak keras, serta warna pada batang umumnya hijau tua dengan pigmen ungu.

Akar tanaman kentang memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut, berwarna keputih-putihan dan berukuran sangat kecil, serta dari akar ini akan berubah bentuk dan fungsi selanjutnya akan menjadi umbi kentang. Warna bunga biasanya kuning atau ungu, tapi tanaman kentang tidak selalu berbunga. Bagian tanaman kentang yang utama yaitu umbi, memiliki ukuran dan bentuk bervariasi dengan warna umbi biasanya berwarna kuning, putih, dan merah.

Varietas & Persebaran Tanaman Kentang

Tanaman kentang memiliki beberapa varietas, yang dikelompokkan ke dalam tiga tipe diantaranya yaitu:

  1. kentang putih, yang memiliki kulit dan daging umbi berwarna putih, rasa kurang enak, agak lembek karena kandungan air yang tinggi;
  2. kentang kuning, paling digemari masyarakat, warna kulit dan umbinya kuninh, rasanya gurih dan lembut, serta berkadar air rendah sehingga tidak mudah hancur ketika dimasak;
  3. kentang merah, kulitnya berwarna merah dan daging umbinya berwarna putih kekuningan, rasanya manis dibandingkan jenis kentang lainnya.

Pada pertengahan abad ke-16, penyebaran tanaman kentang diketahui berawal dari Amerika selatan yang meudian menyebar ke berbagai negara di dunia. Sejak saat ini, tanaman kentang mulai ditanam secara luas di berbagai negara di Asia, Amerika utara, Kepulauan Hindia barat dan Afrika.

Menjelang akhir abad ke-17, tanaman kentang mulai pertama kali ditemukan di Indonesia, tepatnya di daerah Cisarua dan Cimahi. Diduga, jenis kentang tersebut berasal dari Amerika Serikat. Pada awal abad ke-18, diketahui tanaman kentang sudah dibudidayakan di berbagai daerah, terutama di dataran tinggi seperti Pacet, Lembang, Pengalengan, Wonosobo, Tawangmangu, Batu, Tengger, Aceh, Tanah Karo, Padang, Bengkulu, Sumatera Selatan, Minahasa, Bali dan Flores.

Syarat Tumbuh

Untuk membudidayakan tanaman kentang, ada beberapa syarat tumbuh tanaman agar berkembang baik, diantaranya yaitu hindari lahan bekas tanaman terung-terungan, lokasi lahan dekat dengan sumber air, lahan berada pada ketinggian diatas 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl), suhu optimum berkisar antara 15o C - 20o C, kelembaban 80-90%, curah hujan berkisar 1.500-5.000 mm/tahun.

Selain itu, kondisi tanah yang ideal yaitu tanah dengan tekstur sedang, gembur, subur dan berdrainase baik, pH tanah antara 5-6.5, serta hindari tanah yang menjadi sumber penyakit tular tanah terutama Nematoda Sista Kentang(NSK).

Pembenihan/Pembibitan

Untuk tahap pembenihan kentang, pilihlah umbi yang sehat, tidak terinfeksi penyakit dan dipanen pada usia yang cukup. Bibit yang digunakan sebaiknya berasal dari umbi yang tua dengan ciri umbi kuat, berat umbi 30-45/50 gram dan memiliki tiga hingga lima mata tunas.

Metode pembenihan agar mendapatkan umbi yang baik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Umbi yang baik adalah umbi bertunas dan juga kuat yang telah melewati proses penyimpanan 4 bulan setelah panen.
  • Benih yang bagus jika telah tumbuh tunas kurang lebih 2 cm dan jumlah tunas mencapai 3 hingga 5 tunas per umbi.
  • Permukaan umbi harus mulus dan bebas dari cacat.

Sebelum ditanam, benih yang akan digunakan harus disiapkan dan berasal dari benih yang bermutu dan varietas unggul, hal ini bertujuan agar benih yang ditanam jelas varietasnya, memiliki tingkat keseragaman yang tinggi, sehingga produktivitasnya tinggi dan sehat.

Penanaman

Kentang ditanam dapat menggunakan sistem baris ganda (double row) yang ditanam pada bedengan atau baris tunggal (single row). Selain itu, sistem menanam kentang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu monokultur dan tumpangsari. Jenis tanaman lain yang umumnya ditanam dengan sistem tumpangsari pada tanaman kentang adalah tanaman seledri dan bawang daun.

Perawatan tanaman kentang bertujuan agar tanaman tumbuh dengan baik. Perawatan tanaman kentang yang biasa dilakukan adalah penyiangan, yang dilakukan apabila tumbuh rumput dan gulma yang mengganggu tanaman dan dilakukan bersamaan dengan perbaikan guludan serta saat tanaman berusia 1 bulan setelah tanam.

Selain itu, pertanaman kentang juga harus dilakukan pengairan terutama pada musim kemarau, yang bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan juga agar pertumbuhan tanaman optimal, terutama dalam proses penyerapan unsur hara.

Pemupukan yang dilakukan pada awal penanaman adalah pupuk kandang. Pupuk kandang yang digunakan biasanya berasal dari kotoran ayam atau sapi. Kemudian, dilakukan pemupukan susulan menggunakan pupuk dari campuran pupuk NPK. Pemupukan lanjutan dilakukan untuk memberikan nutrisi tambahan sesuai kondisi pertumbuhan tanaman dengan tujuan menambah kebutuhan hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Hama & Penyakit

Hama yang sering menyerang tanaman kentang yaitu kutu daun (Aphids gossypii). Sellain itu, diketahui ada beberapa penyakit penting pada tanaman kentang, dianataranya yaitu busuk daun (Phytopthora infestans), layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk kering (Fusarium spp.), kudis lak (Rhizoctonia solani), kudis (Streptomyces scabies), dan penyakit yang disebabkan oleh virus.

Penyakit busuk daun merupakanpenyakit terpenting pada tanaman kentang karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi dari hasil produksi kentang.

Panen

Panen kentang dilakukan pada saat tanaman berumur 34 bulan setelah tanam. Ciri-ciri tanaman kentang siap panen yaitu daun dan batang sudah mengering, kulit umbi telah melekat sempurna pada daging dan tidak mudah terkelupas saat ditekan.

Supaya tidak mudah rusak umbi hasil panen di bawa ke gudang dan disimpan di ruangan dalam kondisi bersih dan dilakukan sortasi dan grading terlebih dahulu. Sortasi adalah kegiatan memisahkan umbi kentang berdasarkan kualitas yaitu umbi yang bagus dan yang jelek. Sedagkan grading adalah kegiatan memisahkan umbi kentang berdasarkan bentuk dan ukuran.

 

--------------------------------------

Disusun oleh: Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

Zainudhin Z. 2016. Sejarah Kentang. https://www.agrotani.com/sejarah-kentang/

 

Ummah K, Purwito A. 2009. Budidaya Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) Dengan Aspek Khusus Pembibitan di Hikmah Farm, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Makalah Seminar. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

 

Anonim. 2018. Budidaya Tanaman Kentang. https://8villages.com/full/petani/-article/id/5a7bd60fee8aa8c9065491e7

 

Diwa AT, Dianawati M, Sinaga A. 2015. Petunjuk Teknis Budidaya Kentang. BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) JAWA BARAT BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN. ISBN 978-979-3595-47-4