A-Z Budidaya

Kakao (Theobroma cacao)

budidaya kakao

Kakao (Theobroma cacao) merupakan salah satu tanaman perkebunan. Kakao mulai dapat menghasilkan buahnya setelah umur tanaman 18 bulan dan dapat menghasilkan biji kakao yang selanjutnya diproses menjadi bubuk coklat. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pembudidaya tanaman kakao terbesar di dunia, setelah Ivory-Coast, dan Ghana. Dalam 10 tahun terakhir, diketahui perkembanagn perkebunan kakao meluas dan meningkat secara pesat dengan pertumbuhan rata-rata lebih dari 8%/tahun.

Di Indonesia 90% perkebunan kakao merupakan perkebunan rakyat. Namun, sampai saat ini, Kakao Indonesia, khususnya yang dihasilkan oleh rakyat masih dihargai paling rendah di pasar Internasional. Itu karena, dari sisi kualitas kakao Indonesia kalah dari negara lainnya. Banyak ditemukan kasus kakao yang dihasilkan oleh Indonesia didominasi oleh biji-biji tanpa fermentasi, biji-biji dengan kadar kotoran tinggi, serta ada kontaminasi serangga, jamur dan mitotoksin.

Untuk itu, berikut disajikan tahap-tahap budidaya tanaman kakao yang bertujuan untuk dapat menigkatkan kualitas biji kakao di pasaran, baik nasional maupun internasional.

Botani

Tanaman kakao merupakan satu-satunya dari 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae yang dibudidayakan. Berikut sistematika tanaman kakao.

  • Divisi : Spermatophyta
  • Anak divisi : Angioospermae
  • Kelas : Dicotyledoneae
  • Sub Kelas : Dialypetalae
  • Bangsa : Malvales
  • Suku : Sterculiaceae
  • Marga : Theobroma
  • Jenis : Theobroma cacao Linn.

Morfologi

1. Batang dan cabang

Tanaman kakao meliki percabangan yang bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan).

2. Daun

Daun kakao juga bersifat dimorfisme. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5-10 cm sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya sekitar 2,5 cm. Tangkai daun bentuknya silinder dan bersisik halus. Daun kakao memiliki dua persendian, yaitu yang terletak di pangkal dan di ujung tangkai daun.
Bentuk helai daun bulat memanjang (oblongus) ujung daun meruncing (acuminatus) dan pangkal daun runcing (acutus). Susunan daun tulang menyirip dan tulang daun menonjol ke permukaan bawah helai daun. Tepi daun rata, daging daun tipis tetapi kuat seperti perkamen.

3. Akar

Sebagian besar akar lateral (mendatar), berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalamantanah 0-30 cm. Jangkauan jelajah akar lateralnya jauh di luar proyeksi tajuk. Ujungnya membentuk cabang-cabang kecil yang susunannya tidak beraturan (intricate).

4. Bunga

Tanaman kakao bersifat kauliflori, artinya bunga tumbuh dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Bunga kakao berwarna putih, ungu atau kemerahan.

5. Buah dan biji

Warna buah kakao pada dasarnya hanya ada dua macam warna, yaitu buah muda berwarna hijau atau hijau agak putih dan bush matang akan berwarna kuning. Namun terkadang, bisa juga buah yang ketika muda berwarna merah, setelah matang buah berwarna jingga.

Varietas & Sebaran Tanaman

Tanaman kakao berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan di Amerika Selatan bagian Utara. Penduduk yang pertama kali melakukan budidaya tanaman kakao serta menggunakannya sebagai bahan makanan dan minuman adalah Suku Indian Maya dan Suku Astek (Aztec).

Di Indonesia tanaman kakao diperkenalkan oleh orang Spanyol pada tahun 1560 di Minahasa dan Sulawesi. Kakao mulai di perkenalkan oleh orang-orang Spanyol ke Indonesia pada tahun 1560 di Minahasa, Sulawesi Utara. Pada tahun 1825-1838 Indonesia telah mengekspor sebanyak 92 ton kakao dari pelabuhan Manado ke Manila.

Varietas atau klon anjuran untuk kakao dianataranya yaitu Klon ICS 13, Klon 1CS 60, GC 7, Hibrida, RCC 70, RCC 71, RCC 72. RCC 73. Dan TSH 858.

Syarat Tumbuh

Pertumbuhan tanaman kakao yang ideal dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, yaitu:

  1. Daerah terletak pada garis lintang 10o LS – 10o LU
  2. Ketinggian tempat kurang dari 800m dari permukaan laut
  3. Curah hujan antara 1500 sampai 2500 mm/tahun
  4. Suhu udara optimum yaitu 18o C - 30o C
  5. Kemiringan tanah < 45% dan kedalaman oleahnya < 150 cm
  6. Tanah bertekstur yang terdiri atas pasir (50%), debu (10-20%), dan lempung berpasir (30-40%)
  7. Kandungan kimia tanah yang diperlukan yaitu: kadar bahan organi > 3.5%. rasio C/N antara 10-12, Kapasitas Tukar Kation (KTK) > 15 me/100 g tanah, pH tanah optimum 6-7, dan kadar unsur minimum lainnya (Nitrogen = 0.38%), P (Bray I) = 32 ppm, K tertukar = 0.50 me/100 g, Ca tertukar = 5.3 me/100 g, Mg Tertukar = 1 me/100 g.

Pembibitan

Bentuk Bibit/Benih

  • Gunakan bibit kakao yang sehat, perakarannya bagus, daunnya segar, dan kokoh.
  • Biasanya, bibit kakao yang digunakan diperoleh secara generatif ataupun vegetatif..
  • Bibit yang berasal dari cara generatif (biji) yaitu menggunakan biji hasil semaian yang digunakan sebelum ditanam di lahan. Kekuranganya cara generatif ini lebih sulit.
  • Bibit yang diperoleh dari cara vegetatif, yaitu melalui sambung pucuk dan okulasi.

Keunggulan bibit yang diperbanyak dengan cara vegetatif ini yakni bibit siap tanam pada umur 4 – 6 bulan, tinggi tanaman 50 cm dan diameter batang sekitar 8 mm. Cara vegetatif lebih banyak digunakan oleh para pembudidaya tanaman kakao.

Metode Pembenihan/Pembibitan

  • Tentukan lokasi yang dekat sumber air dan lahan penanaman kakao.
  • Buat campuran media tanam yang terdiri atas tanah, pasir dan pupuk kandang (rasio 1:1:1).
  • Siapkan polybag (ukuran 20x30 cm) dan lubangi sebanyak 18 lubang (ukuran lubang 1 cm).
  • Buat bedengan dengan atap bisa dari daun tebu atau daun kelapa (ukuran 1,5 mx1,2 m) dan buka atap secara bertahap pada saat bibit kakao berumur 2 minggu.
  • Atur intensitas cahaya mahahari yang masuk ke dalam bedengan (sekitar 30-50% tolerasni cahaya masuk).
  • Susun polybag dengan jarak antar plybag 15 cm x15 cm (30 cm).
  • Penyiraman dilakukan setiap hari atau bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca.
  • Pemupukan dapat menggunakan pupuk urea dan dilakukan per 2 minggu.
  • Bibit mulai dipindahkan ke kebun saat berumur 3-5 bulan, dengan ketentuan: tinggi 40-60 cm, jumlah daun 12 lembar, dan diameter batang 0.7 – 1 cm.

Budidaya

Sebagai tanaman tropis, tanaman kakao bisa ditanam pada musim hujan maupun musim kemarau, dimana kemarau selama 2 bulan pun kakao masih bisa hidup.

1. Persiapan lahan

  • Lahan perkebunan kakao dapat berasal dari hutan asli, hutan sekunder, tegalan, bekas tanaman perkebunan atau pekarangan.
  • Jika lahan yang digunakan miring, maka lahan dibuat teras-teras untuk menghindari terjadinya erosi.
  • Jika areal dengan kemiringan 25-60%, maka harus dibuat teras individu.

2. Pembukaan lahan

  • Ada dua cara penyiapan lahan yaitu cara pembersihan selektif dan pembersihan total.
  • Lakukan pembersihan alang-alang di tanah tegalan agar tanaman kakao dan pohon naungan/pelindung dapat tumbuh baik.
  • Buat saluran drainase secara alami atau yang telah ada dapat dipertahankan sehingga berfungsi sebagai saluran primer, tujuannya untuk memperlancar pembuangan air.
  • Sedangkan, saluran sekunder dan tersier dibangun sesuai dengan keadaan lapangan.

3. Pengapuran

  • Jika lahan untuk tanaman kakao berupa tanah dengan pH<5, maka tanah ditambahkan kapur berupa batu kapur (2 ton/ha) atau kapur tembok sebanyak (1.500 kg/ha).

4. Pemupukan

  • Dilakukan pada lubang-lubang tanam dan dilakukan 2 minggu sebelum bibit ditanam, bertujuan untuk merangsang pertumbuhan bibit kakao.
  • Rekomendasi pupuk seperti Agrophos (300 gram/lubang)pupuk urea (200 gram/lubang), atau pupuk TSP (100 gram/lubang).
  • Tutup lubang dengan tanah yang telah dicampur dengan puou kandang.

5. Hubungan Tanaman Dan Jarak Tanam

  • Hubungan yang sering digunakan ialah hubungan segi empat dengan jarak tanam 4 m x 4 m atau 5 m x 5 m.
  • Bisa juga menggunakan hubungan pagar yaitu dengan jarak antara barisan tanam 4 m dan jarak tanam di dalam barisan 2 m. Jarak tanam tersebut memberikan hasil lebih tinggi di bandingkan jarak tanam 4 m x 4 m dengan hubungan segi empat.

6. Menanam Pohon Pelindung

  • Jika tanaman kakao ditanam dikebun, maka memerlukan pohon pelindung sementara dan pelindung tetap.
  • Pelindung sementara akan memberikan perlindungan secukupnya pada waktu bibit ditanamkan. Contoh tanaman pelindung sementara: Theprosia candida, Flamengia congesta.
  • Pelindung tetap akan memberikan perlindungan kepada tanaman kakao dengan intensitas sedang. Contoh tanaman pelindung tetap yaitu: Albizzia dan Leucaena sp.

Perawatan & pengairan

1. Penjaringan dan Penyulaman

  • Penyulaman dilakukan sampai tanaman berumur 10 tahun.

2. Penyiangan

  • Berupa pengendalian gulma rutin minimal satu bulan sekali, dengan membabat tanaman pengganggu sekitar 50 cm dari pangkal batang atau dapat juga dilakukan dengan campuran herbisida (1,5-2,0 liter/ha) dan air (500-600 liter).
  • Tujuan untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsur hara, untuk mencegah hama dan penyakit serta gulma yang merambat pada tanaman kakao.

3. Pemangkasan

  • Tujuannya untuk menjaga/pencegahan serangan hama atau penyakit, membentuk pohon, memelihara tanaman dan untuk memacu produksi.

Pemupukan

1. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan.

2. Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam 10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter sekitar setengah dari tajuk.

3. Dosis pemupukan tanaman yang belum berproduksi (gram/tanaman):

  • Umur 2 bulan: ZA=50 gram/pohon.
  • Umur 6 bulan: ZA=75 gram/pohon; TSP=50 gram/pohon; KCl=30 gram/pohon; Kleserit=25 gram/pohon.
  • Umur 12 bulan: ZA=100 gram/pohon.gram/pohon, TSP = 2 x 50 gram/pohon, KCl = 2 x 50 gram/pohon.
  • Umur 18 bulan: ZA=150 gram/pohon; TSP=100 gram/pohon; KCl=70 gram/pohon; Kleserit=50 gram/pohon
  • Umur 24 bulan: ZA=200 gram/pohon

4. Dosis pemupukan tanaman berproduksi (gram/tanaman):

  • Umur 3 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 50
  • Umur 4 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 100 gram/pohon, TSP = 2 x 100 gram/pohon, KCl = 2 x 100 gram/pohon.
  • Umur > 5 tahun: ZA = 2 x 250 gram/pohon, Urea = 2 x 125 gram/pohon, TSP= 2 x 125 gram/pohon, KCl = 2 x 125 gram/pohon.

Hama & Penyakit

1. Beberapa hama penting pada tanaman kakao, diantaranya yaitu:

2. Penyakit Tanaman Kakao, diantaranya yaitu:

  • Penyakit Busuk buah hitam, yang disebabkan oleh Phytopthora palmivora; menyerang buah dengan gejala beruapa bercak kakao di titik pertemuan tangkai buah dan buah atau ujung buah, serta gejala serangan berat ditandai buah diliputi miselium abu-abu keputihan; pengendalian dengan cara buah yang sakit diambil, kurangi kelembaban kebun dengan cara pemangkasan dan bisa juga aplikasi pestisida dengan bahan aktif Cu: Cupravit 0,3% atau Cobox 0,3% atau insektisida bahan aktif Mankozeb: Dithane M-45 dan Manzate 200 0,3% dengan interval 2 minggu.
  • Vascular Steak Dieback (VSD), disebabkan oleh jamur Oncobasidium theobromae dengan menyerang bagian daun, ranting/cabang; gejala yang ditimbulkan berupa bintik-bintik kecil hijau pada daun terinfeksi dan terbentuk tiga bintik kekakaoan, kulit ranting/cabang kasar, pucuk mati (dieback); pengendalian dapat menggunakan bibit bebas VSD, perhatikan anitasi tanaman, kurangi kelembaban, tingkatkan intensitas cahaya matahari dan perbaiki drainase dan pemupukan.

Panen

Masa panen

  1. Buah cokelat/kakao bisa dipenen apabila perubahan warna kulit dan setelah fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang ± usia 5 bulan.
  2. Untuk memudahkan buah yang siap panen, berikut ciri-cirinya: warna kuning pada alur buah dan punggung alur buah; warna kuning pada seluruh permukaan buah dan warna kuning tua pada seluruh permukaan buah.
  3. Panen buah kakao biasanya dilakukan 7-14 hari sekali.

Cara panen

  1. Proses pemetikan, gunakan pisau tajam dan hindari melukai batang yang ditumbuhi buah, jadi sebaiknua petik buah kakao dengan memotong pada tangkai buah tepat dibatang yang ditumbuhi buah. Tujuannya agar bunga dapat tumbuh lagi di tempat tersebut pada periode berbunga selanjutnya.
  2. Gunakan sistem 6/7 untuk cara panen. Artinya buah kakao yang masak/matang dengan kepadatan cukup tinggi dapat dipetik 6 hari dalam 7 hari.
  3. Bisa juga menggunakan sistem 7/14 apabila kepadatan buah matang rendah. Sistem 7/14 artinya buah matang dengan kepadatan rendah dapat dipetik 7 hari dalam 14 hari.

Pascapanen

  1. Buah kakao hasil panen biasanya dikumpulkan dan dikelompokkan menurut kelas kematangan.
  2. Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat yang keras.
  3. Biji kakao dikeringkan dengan cara diperam selama 6 hari di dalam kotak kayu tebal yang dilapisi aluminium dan bagian bawahnya dilubangi kecil-kecil.
  4. Simpan biji kakao yang sudah kering dapat dimasukan dalam karung goni.
  5. Penyimpanan di gudang, sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan, dan setiap tiga bulan harus diperiksa untuk melihat ada tidaknya jamur atau hama yang menyerang biji cokelat.

 

-------------------------------------------

Disusun oleh: Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

Karmawati E, Mahmud Z, Syakir M, Munarso SJ, Ardana IK, Rubiyo. 2010. Budidaya dan Pascapanen Kakao. Pustlibang Perkebunan, Kementrian Pertanian.

 

Firdausi AB, Nasriati, Yani A. 2008. Teknologi Budiaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

 

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2010