A-Z Budidaya

Bawang Daun (Allium fistulosum L)

bawang daun

Allium fistulosum L, dalam bahasa Inggris disebut Welsh onion atau  Japanese bunching onion, sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama bawang daun. Sebelum dikenal di Erpa dan Amerika, tanaman daun bawang berasal dari Asia. Bawang daun merupakan tanaman bawang jenis perennial. Bawang daun mempunyai banyak nama, seieorti green onion, spring onion, scallion, escallion, dan salad onion, merupakan nama-nama yang familier di dunia internasional.

Bawang daun merupakan bahan masakan utama, terutama untuk masyarakat Asia Timur dn Asia Tenggara sudah lama menafaatkannya sebagai masakan. Tanaman bawang daun bisa silut dibedakan dengan jenis bawang lainnya seperti bawang bombai (Allium cepa), karena selain baunya sangat mirip juga sudah ada hibrida antara keduanya. 

 

Morfologi

Tanaman bawang daun memiliki daun berbentuk bulat, memanjang, berlubang menyerupai pipa, dan bagian ujungnya meruncing. Daun tanaman ini berbentuk pipih memanjang, tidak membentuk rongga dan bagian ujungnya meruncing. Ukuran panjang daun dari tanaman bawang daun sangat bervariasi, antara 18-40 cm dan tergantung pada varietasnya.

Varietas

Tanaman bawang daun masuk dalam keluarga Liliaceae. Dua jenis tanaman bawang daun diantaranya bawang bakung, (Allium fistulosum) dan bawang prei (Allium porum L). Perbedaan keduanya yaitu bawang bakung benbentuk bulat panjang dan berlubang seperti pipa, sedangkan daun bawang prei panjang, pipih berpelepah panjang dan liat. Daun dari kedua jenis bawang itulah yang biasa dikonsumsi, terutama bagian batang atau kelopak daun yang berwarna putih. Varietas yang basa ditanam di Indonesia diantaranya plumpung, nyonya dan mambo.

Syarat Tumbuh

Bawang daun memiliki syarat tumbuh yang cukup sulit atau rigid. Bawang daun cocok tumbuh di dataran tinggi dengan ketinggian 250-1500 mdpl. Jika tumbuh di dataran rendah, anakan bawang daun menjadi tidak akan terlalu banyak. Kemudian, bawang daun juga memiliki syarat tumbuh di daerah dengan curah hujan 150-200 mm/tahun dan suhu harian yang cocok untuk pertumbuhan antara 18-25c . Tanaman bawang daun membutuhkan pH netral (6,5-7,5) dengan jenis tanah Andosol (bekas lahan gunung berapi) atau tanah lempung berpasir.

Pembenihan & Pembibitan

Untuk satu hektar lahan dibutuhkan bibit (tunas) kurang lebih sebanyak 200.000 buah. Anak tunas yang akan dijadikan bibit dipisahkan dari rumpun induknya. Sebelum ditanam, ujung daun dipotong kira-kira sepertiga bagian tanaman. Kemudian, daun bawang dikembangbiakkan dengan biji.

Bibit daun bawang ditanam satu persatu dalam saluran dengan jarak tanam 20cm. Bibit ditimbun dengan tanah secara bertahap sambil tanah di dangir. Ketika berumur 3-4 minggu, tanaman diberi pupuk buatan berupa urea dengan takaran sekitar 3g. Cara pemipukan bibit dengan meletakkan pupuk buatan itu di kanan – kiri tanaman, lalu saluran ditutup dengan tanah. 

Penanaman

Untuk penanaman satu hektar diperlukan sekitar 1,5-2kg biji bawang daun. Biji bawang daun yang akan ditanam disemaikan terlebih dahulu. Bibit tersebut dipindahkan ke kebun setelah berumur 1 bulan dengan tingginya mencapai 10-15cm.

Sebelum bibit dipindahkan, tanah diolah terlebih dahulu dengan cara dicangkul sedalam 30-40cm, kemudian diberi pupuk sebanyak 10-15 ton/ha. Setelah tanahnya diratakan, dibuat saluran-saluran kecil, yang dalamnya antara 10–20cm dengan jarak antar-saluran 25cm. Semakin dalam lubang tanamnya makin panjang bagian batang yang berwarna putih.

Termasuk untuk pengairan dan penyiraman yang harus dilakukan terutama bila bawang daun ditanam pada musim kemarau. Sedangkan ditanam dimusim penghujan drainase harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi genangan air di lahanyang membuat tanaman malah tidak tumbuh dengan baik.

Hama & Penyakit

Hama yang banyak ditemukan di pertanaman bawang daun antara lain adalah Agrotis sp. Hama ini menyebabkan batang terpotong dan putus sehingga tanaman mati. Hama lainnya diantaranya Spodoptera exigua yakni ulat bawang yang memakan daun dari bawang daun dan hama tanaman yaitu Thrips tabaci yang menghisap cairan daun.

Penyakit yang menyerang tanaman bawang daun adalah Erwinia carotovora dengan gejala berupa busuk lunak, basah dan mengeluarkan bau yang tidak enak, selain itu juga serangan Alternaria porri yang gejalanya berupa bercak ungu yang menyerang daun. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit dan sanitasi kebun agar tidak lembab. Kondisi kebun yang kotor dan lembab menyebabkan penyakit dapat berkembang dengan cepat.

Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar, baik untuk pemilihan jenis, dosis, volume semprot, dan cara aplikasi, secara interval maupun waktu penerapannya.

Panen

Waktu panen bawang daun sekitar 2,5 bulan dari penanaman bibit, atau 5 bulan dari bibit mulai di semai. Panen bawang daun dapat dilakukan dengan mencabut seluruh bagian tanaman termasuk akar. Buang akar dan daun yang busuk atau layu. Apabila bawang daun ingin ditanam kembali, perlu dilakukan pemilihan tunas anakan yang sehat dan bagus pertumbuhannya yang kemudian dipisahkan dari bagian tanaman yang hendak dijual.

 

-----------------------------------------

Disusun oleh: Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

Meltoin L. 2019. Budidaya Tanaman Bawang Daun. https://digilib.uns.ac.id/-dokumen/download/8964/MjE3MjE=/Budidaya-tanaman-bawang-daun-Allium-fistulosum-L-di-kebun-benih-hortikultura-KBH-Tawangmangu-Lela-Meltin.pdf

 

Qibtiah M, Astuti P. 2016. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Daun (Allium fistulosum L.) Pada Pemotongan Bibit Anakan dan Pemberian Pupuk Kandang Sapi Dengan sistem Vertikultur. Jurnal AGRIFOR 15 (2): 249-258