A-Z Budidaya

Alpukat

alpukat

Kedudukan tanaman alpukat secara sistematika termasuk kedalam family Lauraceae dan genus Persea. Tanaman alpukat yang banyak dikembangkan yaitu jenis Persea americana Mill sinonim P. gratissima Gaerth. Nama ilmiah Persea berasal dari bahasa Yunani, artinya suatu pohon yang manis buahnya.

Nama alpukat sangat beragam di berbagai wilayah, seperti advocaat (Belanda), avocado (Inggris), dan aguacate (Spanyol). Sedangkan alpukat di Indonesia pun memiliki sebutan untuk wilayah-wilayah tertentu, seperti alpokat (Jawa Tengah dan Jawa TImur) dan apokat atau jambu wolanda (Batak dan Lampung).

Morfologi tanaman alpukat yaitu berbentuk pohon berkayu yang tumbuh menahun (perennial) dengan ketinggian tanaman antara 3-10 m. Batang tanaman ini berlekuk dan bercabang banyak serta berdaun rimbun. Bunga buah alpukat tersusun dalam tandan yang tumbuh dari ujung-ujung ranting.

Varietas & Sebaran Tanaman Alpukat

Ada berbagai ragam jenis dan varietas tanaman alpukat dengan karakteristik utama buah yang berbeda-beda. Diketahui ada beragam tipe alpukat, diantaranya yaitu:

  1. Alpukat kelompok Mexico yakni buah dengan ukuran kecil dengan berat berkisar antara 85-350 g, kulit tipis dan halus mengkilap, serta daging buah mengandung kadar minyak tinggi antara 10-30%;
  2. Alpukat kelompok Indian Barat berukuran sedang dengan kulit halus lentur, daging buah mengandung kadar minyak antara 3-10%, toleran terhadap kadar garam tinggi dalam tanah;
  3. Alpukat kelompok Guatemala berukuran besar dengan berat buah lebih dari 405 g, kulit tebal dan kasar, kandungan minyak daging buah antara 10-30%.

Sedangkan di Indonesia sendiri, ada berbagai tipe alpukat yang telah menyebar ke berbagai wilayah nusantara. Tipe alpukat tersebut ada 7 varietas, diantaranya yaitu Alpukat Ijo Bundar, Alpukat Ijo Panjang, Alpukat Merah Bundar, Alpukat Merah Panjang, Alpukat Mega Gagauan, Alpukat Mega Murapi, dan Alpukat Mega Paninggahan.

Pusat sebaran tanaman alpukat yaitu Florida, California, Hawaii, Australia, Kuba, Argentina, dan beberapa negara di Afrika Selatan. Tanaman ini diduga masuk ke Indonesia pada zaman kerajaan Hindu dan ketika Islam masuk ke Indonesia dan mula-mula pengembangannya berpusat di Pulau Jawa. Namun, saat ini telah menyebar di semua provinsi di Indonesia. Daerah penghasil alpukat adalah Jawa Barat, Jawa Timur, sebagian Sumatera, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara.

Syarat Tumbuh Tanaman Alpukat

Syarat pertumbuhan tanaman alpukat diantaranya yaitu memerlukan bantuan angin untuk proses penyerbukan, dengan kecepatan angin kurang dari 62,4 km/jam. Selain itu, tanaman alpukat diketahui akan tumbuh dengan subur pada dataran rendah yang beriklim tropis dengan curah hujan 2500 mm/tahun. Tapi, untuk daerah dengan curah hujan kurang dari kebutuhan minimal (2-6 bulan kering), tanaman alpukat masih dapat tumbuh asal kedalaman air tanah maksimal 2 m.

Syarat tumbuh terkait iklim dan cuaca yaitu kebutuhan akan cahaya matahari untuk pertumbuhan alpukat berkisar 40-80 %. Lebih lanjut, suhu optimal untuk pertumbuhan alpukat berkisar antara 12,8 - 28,3o C.

Faktir pendukung agar tanaman alpukat tumbuh optimal yaitu tanah gembur, tidak mudah tergenang air, subur, dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan alpukat adalah jenis tanah lempung berpasir (sandy loam), lempung liat (clay loam), dan lempung endapan (aluvial loam). Keasaman tanah (pH) berkisar 5,6-6,4. Bila pH di bawah 5,5, maka tanaman akan menderita keracunan karena unsur Al, Mg dan Fe larut dalam jumlah cukup banyak.

Pembenihan/Pembibitan

Syarat utama yang harus dipenuhi untuk membuat bibit adalah tersedianya pohon induk, yaitu tanaman yang memiliki persyaratan tertentu untuk dijadikan sebagai sumber bahan perbanyakan (biji, entris, mata tempel dll.). Alpukat varietas Ijo Panjang, Ijo Bundar, Merah Panjang, Merah Bundar, Mega Gegauan, Mega Paninggahan, dan Mega Murapi dapat digunakan sebagai pohon induk untuk batang atas.

Perawatan intensif sebelum bibit ditanam diantaranya penyiraman dengan interval 2 hari sekali, penyiangan terhadap gulma, pemupukan bisa menggunakan pupuk NPK atau pupuk daun, pengendalian hama dan penyakit, dan perawatan bibit memerlukan perhatian khusus karena tanaman masih lemah dan peka terhadap lingkungan. Teknik penyemaian bibit, diantaranya penyambungan pucuk (enten) dan penyambungan mata (okulasi).

Penanaman

Untuk menjaga kesegaran, atau kandungan air didalam tanaman agar tidak layu penanaman dapat dilakukan pada waktu pagi atau sore hari. Waktu tanam yang paling ideal ketika ketersediaan air terjaga, yaitu pada awal musim hujan.

Metode yang dapat dilakukan dalam penanaman alpukat dianataranya yaitu pencabutan ajir dengan membuat ubang tanam dengan ukuran sedikit lebih besar dibandingkan dengan ukuran polibag bibit alpukat. Bibit dikeluarkan dari polibag. Selanjutmya, bibit ditanam sebatas pangkal batang/leher batang. Lalu, tanah galian dimasukkan ke dalam lubang tanam dan tanah disekitarnya dipadatkan sehingga bibit berdiri kokoh.

Perawatan tanaman alpukat yang biasa dilakukan diantaranya yaitu penyulaman, pemberatasan gulma atau disebut juga dengan istilah penyiangan, pendangiran, dan pengantian varietas (Top Worling) yang bertujuan untuk peremajaan kembali tanaman yang sudah tua atau tidak produktif lagi. Sedangkan pengairan rutin dibutuhkan terutama saat tanaman masih muda, karena sistem perakarannya belum cukup mampu menyrap air yang lebih dalam.

Pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) dan pupuk non-organik seperti NPK, Urea, TSP, KCl, ZA dan lain-lain. Jika tanah tidak cukup subur, untuk pemupukan selain pupuk organik juga dapat ditambahkan pupuk non-organik.

Hama & Penyakit

Hama utama pada tanaman alukat dianataranya yaitu Ulat kipat (Cricula trifenestrata HELF.), Ulat peliang/penggulung daun, Aphids (Aphids gossypii Glov.), Tungau merah (Tetranychus cinnabarinus Boisd), Kumbang bubuk cabang/ranting (Xyleborus coffeae Wurth.), dan Lalat buah (Dacus dorsalis Hend.). Sedangkan penyakit utama pada tanaman alpukat diantaranya yaitu Antraknose, Bercak daun atau bercak coklat, Busuk akar dan kanker batang, Busuk Buah, dan Embun Tepung.

Panen

Alpukat berbuah dan daat di panen setelah berumur diatas 3 tahun, itu juga bergantung pada varietas yang ditanam, kesuburan tanah, perawatan,dan kondisi lingkungan lainnya yang mendukung. Dari saat berbunga buah dapat dipetik setelah berumur 6-7 bulan.

Umumnya alpukat mengalami musim berbunga pada awal musim hujan dan musim berbuah lebatnya pada bulan Desember, Januari, Pebruari. Di Indonesia yang keadaan alamnya cocok untuk pertanaman alpukat, musim panen dapat terjadi setiap bulan. Selain itu, kriteria buah yang sudah tua dapat ditentukan secara visual, antara lain warna kulit tua, jika buah diketuk dengan punggung kuku menimbulkan bunyi yang nyaring, dan bila buah digoyang-goyang akan terdengar goncangan biji. 

Pemanenan buah harus dilakukan secara baik dan benar serta hati-hati karena sangat mempengaruhi mutu buah. Pemanenan dapat dilakukan dengan tangan dan bila kondisi pohon tidak memungkinkan, dapat menggunakan tangga atau galah yang diberi keranjang/kantongan yang terbuat dari bahan yang lunak dengan jaring dari plastik, sehingga buah yang dipanen tidak sampai rusak/lecet.

Panen alpukat yang baik dengan dipetik, memotong tangkai buah, dengan menyisakan tangkai pada buah untuk mencegah memar atau luka pada bagian dekat tangkai buah. Buah yang terkumpul selanjutnya dibawa ke packing house operation (operasi rumah pengemasan) untuk dicuci, disortasi, grading, dan untuk disimpan atau langsung di kemas .

 

----------------------------------------

Disusun oleh: Ruth Martha Winnie

Share

Referensi

Rukmana R. 1997. Seri Budidaya: Alpukat. Yogyakarta: Penerbit Kanasius

 

Sadwiyanti L, Sudarso D, Budiyanti T. 2009. Petunjuk Teknis Budidaya Alpukat. Solok: Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.